Diberdayakan oleh Blogger.

Ibuku Janda

Kisah ini terjadi sejak lima tahun lalu, saat aku berusia 14 tahun dan ibuku berusia 34 tahun. Aku sendiri tidak mengenal siapa ibuku. Tapi kami hanya berdua. Kami juga tinggal di pondok kecil dekat persawahan kami yang kata ibu ladang dan sawah itu diberikan oleh keluarga ibuku. Saat aku mengajak ibuku ke rumah orangtuanya, nenek dan kakekku, ibuku selalu menolak.

Bahkan ibu sering menangis kalau aku bertanya soal

ayahku dan orangtua ibuku, atau orangtua ayahku. Setelah aku SMA baru aku mengetahui, kalau ibuku, hamil karena kecelakaan. Tak seorang yang mau mengakui kehamilan ibuku, oleh siapapun. Akhirnya ibuku, dipaksa tinggal di perladangan dan sawah milik orangtuanya, karena orangtuanya merasa malu, ibuku hamil tanpa suami.

Aku mengetahui ini, dari seseorang yang mau bercerita tentang siapa aku sebenarnya, setelah berjanji aku tidak bercerita kepada siapapun. Akhirnya aku sangat menyayangi ibuku, karean ibulah satu-satunya milikku.

"Sudahlah, Mak. Aku adalah milik Emak dan Emak adalah milikku. Kita hanya berdua saja," kataku pada suatu petang. Ibuku pun diam. Sepertinya dia sudah mulai curiga, aku mengetahui sejarah kehidupan kami. Ibuku menatapku lembut.
"Yah... hanya kita berdua. Pasti kamu sudah tau cerita dari orang lain," katanya. Aku mengangguk. Ibu pun tak bertanya dari siapa aku mengetahuinya dan ibu juga tidakbercerita tentang apa sebenarnya.

Hanya dengan dililit kain batik sebatas dada, ibuku pun memeluk diriku dengan kasih sayang.

"Rajin-rajinlah belajar," katanya. Aku mengangguk. Dalam pelukannya, aku mencium aroma sabun wangi melintas ke rongga hidungku. Aku balas memeluk ibuku dan kepalaku direbahkan ke dadanya, sembari kepalaku dielus-elus dan sesekali ibu mencium pipiku.
"Hanya kita saling memiliki," katanya lembut. Tanpa sengaja kain batik yang hanya disedikit dimasukkan ke lipatan lain, terlepas. Buah dada ibu menempel di bibirku. Terasa lembut sekali pentil buah dada ibuku. Perlahan aku menjilat dan mengisap pentil tetek ibu.
"Kamu menetek?" sapa ibu.
"Iya, Mak. Bolehkan?" Ibuku pun tersenyum dan mengangguk.
"Nanti lagi neteknya, masukkan dulu bebek ke kandangnya. Setelah itu kita boleh malam malam."
"Setelah makan malam aku boleh menetekkan, Mak?" kataku ingin menetek. Aku merasa begitu nikmat tadi. Ibu tersenyum dan mengangguk.

Bebek dan ayah serta empat ekor kambing aku masukkan ke dalam kandang, sementara ibu menyiapkan makan malam kami. Ingin rasanya ayam dan bebek serta kambing itu cepat memasuki kandang agar aku cepat bersama ibu. Masih terbayang, aku menetek pada ibu tadi. Akhirnya semuanya sudah masuk kandang dan aku berlari kecil menaiki tangga gubuk kami yang terbuat dari bambu bulat. Lampu sentir sudah menyala dan makanan sudah siap. Kami pun makan dengan lahapnya. Sepulang sekolah tadi, aku sudah membantu ibu menanami padi. AKu juga sudah menyelesaikan 15 buah PR yang besok di sekolah akan diperiksa oleh guru.

Usai makan, aku menagih janji ibu, akan mengizinkan aku menetek. Ibu tersenyum, sembari mengangkati piring kotor ke petmpatnya untuk besok pagi, kami menyucinya.

Pukul 19.00 sudah gelap. Hanya ada lampu sentir di depan gubuk kami dan kami memang ada 200 meter dari tepian kampung. AKu pun sedih setelah mendengar cerita, sejak usia 40 hari, aku dan ibuku sudah tinggal digubuk itu, karena ibuku tidak diizinkan tingal di kampung bersama orang kampung.

Seperti biasa, ibu cepat masuk kelambu untuk tidur karena lelah dan besok pagi biasanya akan bertanak nasi serta memerah susu kambing untuk minuman pagi setiap pagi, masing-masing satu gelas. Aku pun memasuki kelambu mengikuti ibu, setelah mengecilkan lampu sentir, agar hemat minyak tanah.

AKu mendekati ibu. Ibu sudah melepaskan jepitan kain batiknya dan dua buah teteknya menyembul keluar. Ibu menyodorkan kepadaku sebelah buah dadanya dan aku mulai mengisapnya. Aku terkejut saat ibu mendesis-desis.

"Kenapa, Mak? Apa sakit?" tanyaku. Aku melihat senyum ibu di keremangan malam itu.
"Tidak, Nak. Teruskan saja," bisiknya. Dia sodorkan kembali pentil teteknya ke mulutku. Aku mulai mengisapnya dan ibu mengelus-elus kepalaku.

Kembali ibu mendesis-desis dan memelukku. Dicabutnya pentil teteknya dan ibu mengganti dengan pentil yang lain. Aku terus mengisapinya. Sebelah tangankui dibimbingnya untuk mengelus elus teteknya yang barui saja kuhisap. Aku melakukannya. Bulan hanya mengelus, bahkan meremas-remasnya.

"Teruskan, Nak<" bisik ibu mendesis. Desisnya membuat aku ragu, ta[pi kata teruskan, itu membuat aku makin semangat. Aku terus mengisap tetek ibu dan meremasnya. Saat itu ibu meraba burungku. Diselipkannya tangannya memasuki celanaku. Burungku memang sudah mengeras sejak tadi.
Perlahan ibu menurunkan celanaku yang berkaret, sampai aku telanjang bulat. AKu memang biasa tidur tidak makai baju, agar hemat. Bila aku sudah tertidur, biasanya ibu akan menyelimutiku dengan kain panjang atau sarung.

Ibu pun melepaskan kain batik yang menutupi tubuhnya. Aku merasakan ibu juga sudah telanjang bulat. Ibu memelukku dan kami berpelukan. Dalam pelukan itu, ibu membalikkan tubuhnya dari tidur ibu menyamping jadi terlentang dan aku sudah berada di atasnya. Aku merasakan bulu-bulu kemaluan ibu menggesek-gesek di bawah perutku. Kedua tangan ibu mengelus-elus pantatku. Lalu sebelah tangannya memegang kepalaku dan merapatkan mulutku ke mulutnya. Bibir ibu menjilati bibirku dan mengisapnya.

"Burungnya dimasuki ke tempat Emak," katanya. Aku tau tahu masukan kemana. Aku hanya menggesek-gesekkan burungku ke rambut kemaluan ibu. Ibu mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar dan menangkap burungku lalu dicelupkannya ke dalam lubang. Terasa hangat dan aku merasa nikmat. Ibu pum memeluk pinggangku dengan kedua kakinya dan menolak-nolak pantatku dengan tumit kakinya. Burungku terasa keluar masuk pada lubang itu. Aku merasa enak. Kemudian aku yang memaju mundurkan burungku di dalam lubang itu
Ibu mendesis-desis dan terus mengisap-isap bibirku. Dimintanya aku mengeluarkan lidahku. Lisahku diisap-isapnya dengan lembut. Kemudian diulurkannya lidahnya, aku pun memperlakukan lidahnya seperti ibu memperlakukan lidahku tadi. Kami terus berpelukan, sampai akhirnya aku menekan kuat tubuhku memasukkan sedalam-dalamnya burungku ke dalam lubang itu dan ibu pun mendesis, memelukku sekuat-kuatnya. Aku merasakan ada desir cairan kental melumuri burungku.

"Mak.. aku aku mau kencing," bisikku, sembari terus menekan burungku sedalam-dalamnya.
"Kencing saja, Nak," bisik ibu tersendah. Dan aku pun pipis di lubang ibu. Kali ini, air kencingku tidak seperti kencing biasa. Tapi kencingku nikmat sekali, seperti beberapa hari lalu, aku kencing enak dan terasa demikian kental pada celanaku. Saat aku menceritakan kencing kental itu pada ibuku, dia tersenyum saja.

Kami pun berpelukan, sampai kami terbangun baginya. Aku ikut bangun dan membawa piring kotor ke pancuran kecil di samping rumah dan menyucinya, sementara ibu melepas ayam dan bebek, serta memerah susu kambing dua gelas untuk dimasak dan akan kami minum bersama, setiap pagi.

Saat aku mau pergi ke sekolah, ibu memanggilku.

"Kamu tidak boleh bercerita apapun soal tadi malam ya,' kata ibuku lembut dan tersenyum. Aku mengangguk.
"Berjanji?" ibu menegaskan lagi.
"Berjanji,: kataku. AKu pun pergi ke sekolah, sembari membawa 30 butir telur bebek dan 10 butir telur ayam. Nanti sepulah sekolah uangnya aku setor semua pada ibuku.

Cepat kuserahkan uang penjualan telur kepada ibu, sepulangku dari sekolah. Ibutersenyum menerimanya. Pekan depan, aku akan membelikan baju baru untuk sekolahmu dan sepatu, kata ibu. Aku senang sekali. Aku pun kembali mencari bekicot untuk bebek, lalu memberi makan ayam dan merumput untuk kambing. Pukul 13, kami makan siang. Seusai makan siang ibu menumbuk jejamuan. Ketika kutanya untuk apa, ibu bilang, agar dia tidak hamil.

"Kenapa hamil, Mak?"
"Karena tadi malam," kata ibu.
"Kan Emak tidak punya suami?"
"Ya tidak. Tapi tadi malam kita kan sudah seperti suami isteri?" jawab Emak. AKu mengerti akhirnya. Ternyata apa yang dikatakan temen-temanku, ngentot itu, adalah apa yang kami lakukan tadi malam. Aku diam saja, kemudian aku turun ke sawah meneruskan menanam padi, beerjejer lurus. Emak tersenyum., melihat aku semakin rajin. Setelah selesai membuat jamu, ibu datang mendampingiku, sembari kami menanam padi. Kami terbungkuk-bunguk berhampiran.

"So, apa tadi malam kamu merasa enak, Nak?" tanya ibu perlahan, takut di dengar orang di seberang sawah.
"Enak sungguh, Mak. Easanya Wonsgo ingin lagi," kataku berbisik pula. Ibu tersenyum.
"Anak Enak, ternyata sudah dewasa. Sudah pintar dan harus rajin belajar dan rajin bekerja, supaya terus bisa seperti tadi malam," kata ibu. Aku tersenyum membalas senyum ibu. Setelah selesai satu petak, aku minta izin untuk mengerjakan PR-ku. Ibu tersenyum mengikutiku dan membuatkan aku teh manis panas dan segelas untuk ibu. IBu selalu saja istirahat bekerja, bila aku menyelesaikan PR ku. Ibu juga selalu mengajariku bila aku kurang paham.

"Kamu harus sekolah yang tinggi. Biar nanti hidupmu senang, aku boleh numpang sama kamu," kata ibu selalu saja aku belajar. Aku berjanji akan menyenangkan hati ibu kelak.

Ibu kembali lagi menanam pagi dan aku mengarit rumput untuk empat ekor kambing, tiga betina dan satu jantan. Dua betina sedang memiliki masing-masing tiga ekor anak dan susjnya sangat lancar. Aku selalu memberinya rumput segar, agar susunya banyak dan kami bisa minum susu setiap pagi.
Akhirnya tringgal setengah petak lagi sawah kami belum tertanami. Kami yakin besok kami akan bisa menyelesaikannya.

Sore itu kami istirahat. Kami pun bercerita. Aku sudah kelas dua SMP dan aku memohon agar ibu mau bercerita tentang diriku dan dirinya. Setelah lama terdiam ibu menghapus airmatanya. Kata ibu, dia pernah berpacaran dengan seseorang dari kampung yang 200 meter dari gubuk kami. Dia tak mau menyebutkan namanya. Ibu pun hamil. Tapi keluarga bapakku tak mau mengakui, ibu hamil karena dia. Ibu pun tidak menuntut. Lalu keluarga ibu mengusir ibu karena menanggung aib. Ibu dibuatkan gubuk dan tinggal sendirian di ladang/sawah seluar satu hektar sendirian. Sepanjang malam ibu terus menerus menangis sembari menguatkan hatinya. Sampai menjelang kelahiranku, keluarga ibu membawaku ke rumah seorang bidang kampung dan aku pun lahir. Setelah 40 hari usiaku, ibu kembali ke gubuk bersamaku.

Aku meneteskan airmata mendengar cerita ibu. Ibu pun memelukku sembari mencium pipiku. Akhirnya aku tahu, rumah kakek dan nenekku, dekat dengan sekolahku. Nenek membuka warung tak jauh dari sekolahku. Di sanalah aku selalu menjualkan telur-telur bebek dan ayamku. Hampir setiap hari nenek melebihkan uang telur. Lain uang telur, nenek menyelipkan uang ke sakuku dan aku terus menabungnya. Itu kulaporkan pada ibu dan ibu mengatakan, agar aku tetap sopan kepada nenek pembeli telur kami, agar nenek tetap memberiku uang.

Aku pun selalu sopan pada nenek dan nenek sangat senang padaku atas sopan santunku. Anak-anak nenek yang laki-laki selalu membeliaku bila ada teman sekolahku menggangguku. Aku tidak tahu, kalau mereka dalah paman-pamanku.

"Kamu terus seakan-akan tidak mengetahui kalau aku sudah menceritakan semua ini padamu, Nak," kata ibu.
"Kenap Mak. Bukankah mereka kanen, nenek dan pamanku?"
"Bila kamu sayang pada ibu, ibukti kata-kata ibu. Kalau tidak, ibu akan lari meninggalkanmu," kata ibu sedikit berang. Aku pun mengangguk. Aku kembali di peluk ibu. Saat kepalaku direbahkannya di dadanya, aku langsung meremas tetek ibu dari balik kain batiknya yang ditutupi kebaya pendek. Ibu jarang memakai BH. Ibu pun mendesis-desis.

"Setelah ibu ada di dalam gubuk kamu masuk dan segera kunci pintu," kata ibu melompat ke dalam gubuk kami. Aku mengikuti ibu yang sudah berada di atas kasur meremas-remas teteknya sendiri dan melapas kain batiknya dan kancing kebayanga, walau kebaya itu masih melekat di tubuhnya. Aku cepat memeluk ibu dan mengisapi teteknya, sementara sebelah t anganku meremas tetek yang lainnya. Ibu mengarahkan tanganku sebelah lagi untuk meraba-raba memeknya. Sampai memek ibu menjadi basah dan mengeluarkan aroma aneh.

"Ayo, Nak. Naiki ibu. Masukkan yang dalam," kata ibu. Aku menaiki tubuh ibu, setelah melepas celanaku. Cepat pula ibu mengarahkan burungku ke lubang memeknya. Ibu melebarkan kedua kakinya dan memelukku, sembari mulut kami berpagutan. Aku mencucuk tarik burungku dalam memek ibuku. Nampaknya ibutak sabar.
Dia membalikkan tubuh kami. Kini ibu sudah berada di atas tubuhku. Ibu duduk di atas tubuhku, lalu pantatnya dia putar-putar ke kanan dan kekiri. Burungku terasa dielus-elus di dalam lubang ibuku. Sampai akhirnya, ibu berhenti memutar pantatnya, kemudian memelukku dan kembali membuat aku berada di atas tubuh ibu. Aku memompa tubuh ibu. Ibu tidak lagi menggoyang-goyang tubuhnya, selain mengusapusap pungungku dengan kedua telapak tangannya, dengan lembut.

Akhrinay aku pipis lagi du lubang ibuku. Aku memeluknya dan ibu memelukku. Di turunkannya aku dari tubuhnya dan dia berdiri, sembari melilitkasn kembali kain batik panjang di tubuhnya.

"Nanti kamu baru turun, setelah ibu kembali ke dalam sawah," katanya. Aku mengangguk, sembari memakai celanaku. AKu tahu ibu ke pancuran kecil samping rumah untuk cebok, kemudian dia kembali menanam padi ke dalam sawah. Aku pun turun dari gubuk kami. Ikut menolong ibu bertanam padi.

"Nanti malam lagi, ya Mak?" kataku perlahan. Ibu merilikku.
"Kok gak puas-puasnya?" bisk ibu pula dengan tersenyum. Dia terus menenam padi dan aku membantunya. Ketika sore dan mata hari sudah benar-benar redup, ibuku naik dan pergi mandi ke pancuran, lalu bertanak tasi dan lauk seadanya. Dua buah telur bebek akan jadi lauk kami malam ini selain sayuran segar. AKu mulai memasukkan rumput ke kandang kambing dan menuntun satu persatu kambing dari tempatnya bertambat.
Pintu kandang ayam dan bebek kubuka lebar, kemudian aku merazia telur bebek di tempatnya bermain. Ada beberapa butir yang aku temukan dan aku masukkan ke dalam keranjang untuk disatukan dengan telur yang dapat besok pagi untuk kujual ke tempat nenekku.

Bebask, ayam, kambing sudah masuk ke kandang, dan aku pergi mandi.

"Malamnya lama sekali," kataku. Ibu ku tersenyum mengerti apa yang kumau.
Seusai mandi, ibuku mengatakan, hal seperti itu tidak boleh terlalu sering dilakukan. Cuukup hanya dua kali seminggu, biar sehat.
"Jadi malam ini tidak bisa, Mak?" tanyaku kecewwa. Ibu tau aku kecewa. :Lalu kata ibu, Malam ini boleh, tapi setelah itu tiga hari kemudian baru boleh. Pokoknya tiga hari sekali baru boleh. Bila aku berjanji, ibuku akan memberinya, bila tidak, aku tidak bolegh lagi tidur bersama ibuku. Dari pada tidak, aku terpaksa mengikutinya.

Makan malam sudah selesai. Semua pirik kotor sudah disingkirkan. Lampu sentir sudah dikecilkan. IBuku masuk ke dalam kelambu dan aku mengikutinya.

Ibuku tidak setuju, kalau aku kos. Lagi pula, jarak buguk kami dengan SMU tempat sekolahku hanya 11 Km. Akhirnya, aku setuju, dibelikan sepeda. Lagi pula aku kasihan melihat ibu, akan sendirian di gubuk. JIka ada apa-apa, tentu tidak ada yang menolong ibuku.

Dengan pohon bambu yang rimbun tumbuh di tepian sungai, aku memperbesar kandang kambingku dan akhirnya aku mampu membeli seekor lembu betina. Bebek bertambah demikian juga ayam. Aku harus kerja keras, agar aku bisa sekolah tinggi. Bisa jadi sarjana, seperti cita-cita ibuku. Aku akan membawa pindah ibuku, kalau aku sudah mendapatkan pekerjaan. Aku juga melarang ibuku untuk tidak terlalu keras bekerja. Ibuku harus tetap sehat dan cantik, agar dia bisa menyaksikan aku nanti jadi sarjana. Ibuku tersenyum.

"Ya, aku akan tetapcantik," katanya tersenyum. Ibuku memang pendiam. Dia tidak pernah ke pekan. Dia hidupnya hanya di ladang dan sawah. AKu yang selalu belanja membeli beras dan keperluan lainnya, setelah aku mencatat apa yang kami butuhkan untuk dibeli.

Sepedaku memang sepeda bekas. Tapi aku yakin sepeda itu kuat. Setiap pagi aku naik sepeda ke sekolah. Seusai subuh, aku makan kenanyang, lalu mengayuh sepedaku dengan membawa telur. Terkadang aku membawa genjer, pesanan nenek pemilik warung, untuk dijualkan di warungnya. Sedikit cabai atau apa saja, jika aku berikan, nenek pasti menerimanya dan menjualkannya, lalu diberikan uangnya padaku. Terkadang nenek pemilik warung itu, tidak menerima pembagian hasil.

Aku sadar, kalau dia adalah nenek kandungku. Aku pun menyadari, kalau dia menyayangiku dan merindukan untuk memelukku atau apalah namanya. Aku pura-pura saja tidak mengetahui siapa dia sebenarnya. Ketika itu kuceritakan pada ibuku, ibuku tersenyum pahit. Ibu tahu, kalau aku sudah mengetahui segalanya. Nampaknya ada kepuasan pada ibuku, karean keluarganya mulai menyayangiku, tapi aku pura-pura tidak tahu. Aku dan ibuku tahu, kalau kakek dan nenek mulai menyadari kesalahan mereka.

Sepulang sekolah, cepat aku makan dan berganti pakaian. Aku membantu ibu panen padi dan mengakatinya ke lumbung padi yang mungil. Butir-butir padi yang berjatuhan, mulai dimakani oleh bebek dan ayam. Aku tersenyum saja.

Aku bercerita, kalau tadi siang orang di kedai nenek bercerita mengatakan aku mirip dengan Parjo.

"Wajah si Wongso ini mirip sekali dengan Parjo. Sedikit pun tidak membuang," kata mereka. Dan nenek mendelik pada orang yang mengucapkan itu. Aku bertanya pada ibu, siapa Parjo itu. Dengan linangan airmata, ibu pun bercerita siapa Parjo dan dimana rumahnya dan apapekerjaannya.

Aku terkesima, kalau Parho itu adalah ayahku yang menghamili ibuku sekian belas tahun lalu dan tidak mengakuinya. Aku geram. Ibu melarangku marah. Aku harus membuktikan aku bisa jadi sarjana dan lebih baik dari anak-anak Parjo kelak. Jangan dendam. Kalau ditegur, jawab saja dengan lembut dan santun. Jawaban lembut dan santun, akan membuatnya semakin hancur. Kita harus balaskan dendam kita dengan keberhasilan kita, kata ibu padaku. Aku mengikuti saran ibu.

"Ini hari apa bu," tanyaku. Ibu tersenyum.
"Ibu ingat, malam ini jatahmu, Nak. Ibu juga sudah kepingin sekali, tapi janji kita dua kali seminggu, harus kita pegang," kata ibu sembari memarut ramuan jamunya. Dan sudah hampir dua tahun aku menyetubuhi ibuku, ibuku memang tidak hamil. Malamnya kami melakukan persetubuhan yang luar biasa. Kami sama-sama merindu dan sama-sama membutuhkannya. Biasanya setiap pagi, aku akan kembali segar, bila malamnya aku menyetubuhi ibuku.

Siang ini aku pulang sekolah, aku melihat Parjo ada di gubuk kami dan ibu sedang membentaknya. Aku mempercepat laju sepedaku. Setelah sepeda kusandarkan, aku menurunkan keranjang tempat telur, langsung kudekati Parjo, tapi aku bertanya tegas pada ibuku.

"Apa apa, Mak?" kutatapwajah Parjodengan lekat.
"Gak apa-apa?" kata ibu lembut.
"He... ada apa. Koe apain ibuku?" aku menggenggam arit rumput yang baru kemarin sore aku asah tajam. Melihat mataku melotot dan siap mengayunkan arit, ibuku memelukku.

"Jangan So. Aku tidak diapa-apain kok. Usir saja dia pigi dari gubuk kita ini," pinta ibuku.
"Kalau koe tidak segera angkat kaki, kusabit lehermu. Segera pergi. Satu...dua..." aku menghitung. Dengan cepat Parjo meninggalkan gubuk kami. Saat itu, ibu memeluk tubuhku dan menangis. Aku menanyai ibu, apa yang terjadi. Ibu mengatakan, agar ibu mengizinkan Parjo boleh ikut menyekolahkannya. Ibu berang, kenapa setelah Parjo besar, baru mau ikut menyekolahkannya.

Ibu terus memelukku dan teteknya menempel di dadaku. Aku membelai rambutnya dan mencium lehernya. Tetangga kami menyaksikan kami dari kejauhan dan akhirnya mereka kembali mengerjakan ladang mereka. Aku membimbing ibu ke dalam gubuk dan aku mengganti pakaian sekolahku. Tapi... kontolku tegang saat dipeluk erat oleh ibu. Hanya dengan memakai celana dalam aku mendekati ibu yang sedang melap airmata di pipinya, aku membisikinya.

"Maaak... aku mau. Izinkan aku..." langsung kupeluk ibuku dan mencium bibirnya. Ibu langsung meresponsnya dan kami berciuman. Lidah kami saling berkait dan kami saling menyedot lidah bergantian. Ketika aku melepaskan kain batiknya, ibu mengatakan dia sedang haid. Tadi pagi haidnya datang. Aku kecewa. Ibu tau aku kecewa.

"Jangan kecewa. Ada jalan keluar. Aku dengar dari tetangga," katanya. Cepat di mengambil minyak goreng, dilumaskannya ke kontolku dan ke duburnya. Lalu ibu telungkup dan memintaku menaikinya. Aku enggak mengertyi kenapa kontolku dilumasi dan ibu telungkup. Aku menindih ibu. Dituntunnya kontolku memasuki lubang duburnya.

"Ayo tekan perlahan-lahan," katanya. Aku menekan kontolku. Sulit sekali masuknya. Ibu memintaku agar menekannya lebih kuat lagi dan aku menekannya, sementara kontoljku dalam genggaman tangan ibu. Aku merasakan kontolku memasuki ruang sempit. IBu meringis kuat.
"Sakit, Mak?" tanyaku kasihan.

"Sedikit. Tahan dulu... yah. sudah tekan lagi perlahan," kata ibu dan aku menurutinya. Kontolku sudah lebih separo yang masuk. Ibu meminta aku menahannya sebentar dan aku menahannya. Setelah dua menit ibu meminta agar aku memompanya, bagaimana aku biasa memompa memek-nya. Perlahan aku memompanya. Terasa kontolku seperti di remas-remas. Aku mulai menikmatinya dan ibu mulai mendesah nikmat. Sampai akhirnya aku memuntahkan spermaku.

Akhirnya kesepakatan kami, tidak dua kali seminggu kami melakukan persetubuhan, melainkan tiga kali. Dua kali kami senggama memalui memek dan sekali melalui dubur. Ibu pun akhirnya menikmati persetubuhan kami melalui apa saja dan ibu tak pernah hamil.

Setelah aku mengandangkan kambing dan anak l;embu betina yang baru aku beli, juga ayam dan bebek, aku ke kedai membeli minyak tanah. Aku ketemu dengan Parjo. Kutatap dia dengan tajam, lalu kukeluarkan pisau dari sakuku. Kulihat Parjo tertunduk takut. Setelah aku membeli minyak tanah, kudekati dia.

"Jangan sekali-kali lagi kau dekati ibuku. Kubunuh kau," kataku tegas. Dia diam dan menunduk. Aku melihat airmatanya berlinang.

Aku tidak ingin ibuku menikah lagi dengan laki-laki yang tak bertanggungjawab. Lagi pula kebutuhan ibu lahir bathin, mampu kupenuhi demikian sebaliknya.

Kini aku sudah tamat SMU. Aku masuk D-3. Aku berharap, sebentar lagi aku bisa bekerja dan memboyong ibu ke konta, meninggalkan gubuk kami yang reot.
read more...

Petualangan Istriku Di Pesta Pantai

Sekitar satu minggu yang lalu isteriku, Dayu dan aku diundang hadir ke sebuah beach resort bersama dengan rekan-rekan kerjanya. Isteriku bekerja pada bagian marketing di sebuah perusahaan besar yang sangat sukses beberapa tahun belakangan, dan hal tersebut berimbas pada kesejahteraan karyawannya yang semakin naik dan beberapa bonus juga, salah satunya adalah perjalanan ke resort kali ini.

Aku sangat bergairah untuk pergi, meskipun dia merasa khawatir bertemu dengan rekan-rekan kerja isteriku. Kantor Dayu bekerja sangatlah berkultur informal, dan kadang Dayu cerita padaku tentang semua godaan dan cubitan yang berlangsung selama jam kerja. Aku bekerja pada sebuah firma hukum, yang sangat disiplin dan professional, dan bercanda apalagi saling goda merupakan hal yang tak bisa ditolerir dalam perusahaan. Dan hal itu mempengaruhi sikap dan perilakuku dalam keseharian, aku menjadi seorang yang tegas dan formal. Aku tak begitu yakin bisa berbaur dengan rekan kerja Dayu nanti.

Dayu sendiri adalah seorang wanita periang dan mudah bergaul. Berumur 30 tahun, potongan rambut pendek seleher dan berwajah manis. Dia agak sedikit pendek dibawah rata-rata, pahanya ramping yang bermuara pada pinggang dengan pantat yang kencang. Sosok mungilnya berhiaskan sepasang payudara yang lumayan besar dan namun bulat kencang meskipun tanpa memakai penyangga bra. Kami berjumpa dibangku kuliah dan menjadi dekat dalam waktu singkat lalu menikah tak lama setelah kami lulus. Dia tak begitu berpengalaman dalam hal seks, meskipun aku bukanlah lelaki pertama yang berhubungan seks dengannya.

Kala hari perjalanan itu tiba, kami mengenderai mobil menuju resort tersebut. Dalam perjalanan kesana Dayu menceritakan kalau dia telah membeli sebuah bikini baru untuk akhir pekan kali ini.

"Mau pamer tubuh ke orang-orang, ya?" candaku padanya.
"Mungkin," jawabnya dengan tersenyum.
"Maksudmu?" tanyaku penasaran. Dayu yang kutahu tak begitu suka mempertontonkan tubuhnya, aku selalu merasa sulit untuk sekedar memaki pakaian renang yang minim.
"Nggak ada, bukan apa-apa" Dayu tertawa menggoda suaminya. "Sudah pernah kubilang padamu kan kalau dikantor kita senang bercanda dan saling menggoda. Liburan ini pasti tak ada bedanya, hanya tempat dan suasananya yang beda untuk sedikit genit didepan para pria."
"Kamu juga genit di depan teman-teman priamu?" tanya Wisnu gusar.
"Bukan cuma aku, sayang. Semua teman wanitaku juga melakukannya kok," jawab Dayu menjelaskan. "Cuma sedikit genit, menggoda dan bercanda. Kamu tahu, kadang saling bercanda mmm… yeah bercanda agak jorok, seks dan juga sedikit tontonan."
"Tunggu, apa?" suara Wisnu agak meninggi. "Tontonan? Kamu mempertontonkan tubuhmu ke teman-teman priamu?"
"Oh, sayang, ini bukan sungguh-sungguh, " jawab Dayu. "Cuma menggoda kok. Hanya sedikit menyingkap baju, kadang sedikit memberi bonus dengan memperlihatkan dada sebentar."

Aku terhenyak, isteriku memperlihatkan payudaranya pada pria lain? Pria lain di kantornya? Ini bukan seperti sosok Dayu yang kukenal selama ini. Hanya seberapa dekat dia dengan teman kerja prianya? Kepalaku dipenuhi oleh pikiran yang berkecamuk tak karuan hingga akhirnya kami tiba di resort.

Segera kuparkir kendaraan kami. Begitu memasuki lobby dengan bawaan kami, sekelompok orang melambai ke arah Dayu untuk mendekat. Mereka adalah beberapa orang dari rekan-rekan kerjanya dan Dayu memperkenalkanku. Alan, Dave, Eddie, Gary adalah nama taman-teman prianya dan yang wanitanya Sasha, Kristin, Melly dan Nina.Â

Mereka berkata pada Dayu kalau semua orang harus bertemu di kolam renang pribadi dan minum-minum dulu sebelum berikutnya pergi ke pantai. Kami setuju untuk menyusul mereka secepatnya setelah menaruh bawaan dikamar dan berganti pakaian.

Baru saja mereka beranjak, Alan sudah beraksi dengan mencubit pinggul Dayu yang langsung memiawik kegelian dan mendorong tubuh Alan menjauh. Aku sangat terkejut mendapati hal tersebut dan hampir saja teriak marah, tapi mereka semua mulai tertawa, termasuk Dayu, jadi aku pikir inilah sebagian dari cara mereka saling menggoda dan bercanda. Aku tak mau dianggap seorang yang kolot dan tak bisa berbaur di lima menit pertama kehadiranku, jadi aku hanya diam saja membiarkan.

Kami menuju ke kamar kami dan mulai berganti pakaian dengan pakaian renang. Dayu masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian dan kemudian keluar dengan sebuah handuk membalut tubuhnya. Aku ingin melihat apa yang dipakainya dibalik handuk tersebut, tapi dia langsung memotongku sebelum mampu berkata sepatah kata "Ayo, kita turun!"

Kuraih sebuah buku dan berjalan mengikutinya menuju kolam renang. Kantor Dayu pasti sudah menyewa seluruh kolam tersebut, karena ada logo perusahaan pada semua handuk dan pada tulisan selamat datang. Ada sekitar lima puluhan orang di area kola mini. Kebanyakan dari mereka adalah pria, dan yang membuatku kecewa, kebanyakan dari mereka terlihat muda dan menarik. Para wanitanya juga tak ada yang mengecewakan. Kebanyakan mereka hanya berbikini minim memperlihatkan keindahan tubuh muda mereka.

Baru saja aku hendak bertanya dimanakah teman-temannya yang tadi, saat kulihat isteriku sedang membuka handuk penutup tubuhnya. Apa yang terpampang dihadapanku sangat membuatku terpaku, dibalik handuk tersebut dia memakai sebuah bikini warna merah tua dan… sangat minim. Bagian atasnya hanya menutup sebagian depan dari payudaranya, dan tali penahannya yang terkalung dileher jenjangnya terlihat seakan siap untuk dilepas. Sedangkan bagian bawah hampir menyerupai thong, memperlihatkan keindahan paha dan bongkahan pantatnya. Dia terlihat begitu menawan.

Tak heran dia menutupinya dengan handuk saat dikamar tadi, pikirku. Dia tahu kalau aku pasti akan meributkan apa yang dipakainya. Baru saja aku hendak berkomentar namun terpotong oleh sebuah teriakan dari seberang kolam, "Hey, lihat Dayu!"

Dan langsung disusul oleh riuh rendah suara yang diiringi siulan nakal dari para pria di area kolam tersebut. Dayu hanya tertawa riang lalu melakukan sebuah pose, memperlihatkan perutnya yang rata dan kemulusan pahanya sambil mengoleskan sun-block ke tubuhnya. Dia menoleh ke arahku dan berkata, "Lihat kan? Hanya menggoda saja!"

Aku hanya mengangguk dan terdiam. Aku harapdia mengatakan sesuatu tentang betapa terbukanya pakaian renang yang dia pakai ini tapi itu bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan, ini tetap hanya sebuah bikini. Jika para pria ingin memandangi tubuh isteriku, apa salahnya dengan itu? Bahkan aku bisa merasa bangga akan hal tersebut.

Aku rebah di atas bangku malas dan mulai membuka buku yang kubawa sedangkan Dayu berjalan menghampiri teman-temannya. Aku berencana menghabiskan waktu dengan membaca, namun mataku terus melayang ke arah dimana isteriku berada. Setiap kali aku melihat Dayu, dia tengah asik bercanda dengan teman prianya. Akhirnya kuputuskan untuk berhenti membaca, dan hanya memperhatikan setiap tingkah lakunya sambil terus pura-pura membaca bukuku.

Di salah satu sudut kolam tersebut ada bar yang menyuguhkan berbagai macam minuman dan sudah berulang kali aku kesana untuk sebotol bir dingin. Kelihatannya minumannya sudah dipersiapkan dalam jumlah dan ragam yang banyak untuk membuat pesta ini berjalan meriah. Kuamati Dayu sudah berulang kali pergi ke sana untuk segelas margaritas dan entah sudah berapa banyak orang yang pergi mengambilkan minuman untuknya. Namun yang jelas dia semakin bertambah mabuk seiring berjalannya waktu. Ditambah lagi para pria yang mendorongnya dan juga para wanita lainnya untuk minum lebih banyak lagi. Pada suatu kesempatan Dave menantang Dayu untuk berlomba menghabiskan minuman dalam gelas mereka, yang tentu saja dimenangkan Dave dengan mudah, melihat kondisi Dayu sudah lebih dari sekedar mabuk.Â

Baru saja aku mulai kembali membaca, Dayu datang menghampiri. Dia baru saja keluar dari dalam kolam dan tubuhnya basah kuyup. Dengan kain penutup tubuh yang dia kenakan menempel erat disetiap lekuk tubuhnya, membuat dia semakin terlihat menggoda.Â
"Hai, sayang," sapanya. "Sudah lebih santai?"
"Yeah," jawab Wisnu. "Kamu sendiri, bisa bersenang-senang? "
"Oh, ya," dia tersenyum manja. "Aku sudah agak mabuk."

Itu terlihat jelas, tapi aku tak mau lebih mendesaknya. Dayu mengeringkan tubuhnya dengan handuknya, lalu melangkah kembali ke teman-temannya.

Aku kembali pada bacaanku, hingga tiba-tiba saja kudengar suara jeritan. Dengan cepat aku menoleh ke arah suara tersebut, tepat disaat kulihat Melly yang tengah menutupi payudara telanjangnya dengan tangannya. Salah satu dari pria tersebut menarik lepas penutup dadanya dan sekarang tengah berlari dipinggiran kolam dengan menenteng penutup dada tersebut. Melly mengejarnya, dengan lengan menyilang menutupi dadanya hingga si pria berhenti lalu menangkap tubuh Melly dan menariknya bersamanya menceburkan diri ke dalam kolam.

Aku dengar sebuah suara jeritan lagi dan salah seorang wanita yang tak kukenal sekarang juga tak berpenutup dada. Alih-alih menutupi payudaranya, kali ini si wanita hanya membiarkan saja pria yang menarik lepas penutup dadanya itu berlari menjauh dan dia terus mengobrol dengan temannya seakan tak terjadi apapun.

Aku memandang sekeliling untuk mencari Dayu. Dia sedang sedang mengobrol dengan seorang pria di kolam yang dangkal. Kuperhatikan Alan sedang berenang ke arahnya dari belakang dan muncul tepat dibelakangnya lalu menyentakkan tali penahan penutup dadanya di leher. Penutup dada Dayu tertarik erat menekan daging bulat kenyal tersebut dan tiba-tiba saja payudaranya terayun meloncat lepas dari penutupnya. Dia memiawik dan tubuhnya berbalik ke belakang untuk memukul Alan. Alan mengangkat penutup dada tersebut tinggi ke atas, Dayu hanya tertawa keras lalu melompat mencoba merebutnya. Nampak payudaranya terayun seiring tiap lompatannya, puting merah mudanya terlihat jelas mencuat keras membuat seluruh pria dikolam tersebut bersorak riuh.

Dave bergerak ke belakang Dayu lalu menangkap pinggangnya dan mengangkatnya tinggi tinggi agar bisa meraih penutup dada yang dipegangi Alan. Dayu rebut penutup dada tersebut dari tangan Alan lalu mengibaskannya pada Alan dengan tertawa genit. Dayu mulai memakai kembali penutup dadanya, namun masih kalah cepat dengan tangan Alan yang menjulur ke arahnya untuk meremas payudara telanjangnya yang sebelah kiri. Kembali Dayu memiawik dan menepis tangan Alan untuk menjauh.

Rupanya para wanita tak membiarkan begitu saja dengan perbuatan para pria terhadap penutup dada mereka. Beberapa menit setelah Dave membantu Dayu tadi, nampak Melly berjalan mengendap dibelakang Dave yang sekarang berdiri di depan Bar lalu menarik turun celana renang yang dipakai Dave. Sebuah batang pen|s yang besar menyembul keluar dan seluruh wanita menjerit riuh tak terkecuali Dayu. Dave hanya tertawa keras dan mulai mengejar Melly yang berlari mengitari tepian kolam. Dengan konyol Dave berlari mengejr dan mengibas-ngibaskan batang penisnya ke arah Melly yang berlari, menjerit dan tertawa.
 Â
etelah beberapa menit kemudian, Dayu keluar dari kolam renang dan berjalan ke arahku. Sebelum dia mampu mengucap sepatah kata, aku sudah memberondongnya dengan pertanyaan tentang apa yang sedang terjadi disana.

"Oh, sayang, bukan apa-apa. Mereka hanya bersenang-senang, itu saja," jawab Dayu.
"Aku rasa melihatmu telanjang dada dan juga menyentuh dadamu bukan sekedar bercanda atapun senang-senang! " kataku ketus.
"Sayang, jangan terlalu kolot begitu. Lagipula aku sudah memakai penutup dadaku lagi. Lihat para pria itu, mereka melepas beberapa penutup dada teman wanitaku yang lainnya lagi dan sebagian dari para merka, mereka tak ambil pusing untuk memakainya lagi."

Dia berhasil memojokkanku. Beberapa teman wanitanya sekarang sudah mondar-mandir dengan telanjang dada, terkadang salah seorang pria akan mendekat untuk sekedar menyentuh atau meremas payudara mereka.

"Lagipula," Dayu membungkuk dan tiba-tiba memelankan suaranya, "Bukankah ini membuatmu terangsang melihat para pria melirikku? Mengintip dadaku dan menyentuhnya sedikit?"Â

Aku jadi terdiam karena memang itu kenyataannya. Aku merasakan rangsangan setelah melihat para pria tersebut menggoda isterinku, namun aku juga merasakan cemburu yang sangat besar.

"Semua hanya coba bersenang-senang dan tak ada yang dirugikan," sambung Dayu lagi. "Coba pikirkan saja betapa nakalnya isterimu ini, membiarkan para pria melihat dadanya dan menyentuhnya. "

Aku menganggukkan kepala pelan dan dia tersenyum lebar lalu melangkah pergi. Aku merasa harus mengucapkan sesuatu, namun moment tersebut telah musnah. Lagipula, jika para pria berlaku seperti itu pada semua wanita di sini, tak ada alasan bagiku untuk merasa marah. Aku coba lagi untuk konsentrasi pada buku yang kubawa, namun tak berapa lama rasa kantuk melanda. Aku ambil kacamatku lalu dengan cepat terlelap.

Saat aku terbangun, suasana menjadi sangat riuh di dalam kolam. Kebanyakan para wanita yang berada disana sudah tak memakai penutup dada lagi, termasuk Kristin yang tengah berjalan lewat di depan tempatku berada. Kristin berbadan lebih tinggi dibandingkan Dayu, tapi payudaranya lebih kecil. Dadanya terekspos bebas, dan penutup dadanya terlihat menggantung dilehernya, mungkin hasil usil beberapa pria yang melepaskan pengaitnya.

Aku masih merasa ngantuk namun sudah terjaga, dan dengan kaca mata yang menutupi mataku terlihat aku masih tertidur. Aku sapukan pandangan ke seantero area kolam untuk mencari istriku dan kusaksikan suasana sudah semakin memanas, beberapa pasang pria wanita bahkan terlihat saling bercumbu di dalam kolam renang tanpa mempedulikan sekeliling lagi.

Akhirnya kutemukan keberadaan Dayu, yang sedang duduk dipinggir kolam dengan kakinya masuk ke dalam air. Alan menemaninya di dalam kolam, lengannya bertumpu di atas paha Dayu. Keduanya terlihat asik ngobrol dengan wajah yang hampir bersentuhan. Ekspresi wajah Dayu terlihat jengah, sedangkan Alan terlihat sedang merajuk tentang sesuatu. Sebentar-sebentar terdengar suara tawa renyah pecah dari mulut Dayu, terdengar jelas kalau dia masih dalam kondisi mabuk.

Beberapa menit berselang, terlihat Dayu mengangkat lengannya dan mengangkat salah satu tali penahan penutup dadanya dibahunya kemudian pelan-pelan dia turunkan dari bahunya. Alan mengucapkan sesuatu yang kembali membuat tawa isteriku pecah. Kemuadian dia memegang tangan Dayu dan menariknya masuk ke dalam air diantara kedua pahanya. Brengsek, umpatku dalam hati. Apa Alan sudah membuat isteriku menyentuh batang penisnya?

Dayu memiawik terkejut pada awalnya lalu kembali dia tertawa. Dia tetap membiarkan tangannya berada di dalam air, lalu mulailah terlihat dia menggerakkan tangannya. Kembali Alan mengucapkan sesuatu dan Dayu tertawa lagi, lalu dia angkat tangannya dari dalam air dan menurunkan tali penahan penutup dadanya yang satu lagi dari bahunya. Dia memandang sekilas kearahku, dan aku terdiam tak berani bergerak. Aku pasti telah membuatnya yakin kalau aku masih tertidur lelap karena kemudian dia menoleh kembali pada Alan.

Penutup dadanya sekarang hanya bergantung ditahan hanya oleh daging bulat payudaranya saja. Alan sekarang memandanginya tanpa sungkan-sungkan lagi dan mengobrol dengan penuh semangat. Aku tak tahu apa yang tengah dia ucapkan, tapi melihat isteriku yang terlihat melakukan setiap apapun yang Alan pinta, itu pasti sebuah paduan sempurna dari sebuah humor dan rayuan. Beberapa saat berikutnya kembali tangan Dayu masuk ke dalam air. Kali ini dia terlihat menahan nafas. Apapun yang dia pegang di dalam air tersebut, itu membuatnya terkesan. Alan tertawa dan membisikkan sesuatu yang membuat tawa Dayu lebih pecah dengan kerasnya.

Kembali Dayu mengangkat tangannya dari dalam air kemudian meremas kedua lengannya rapat-rapat. Belahan daging payudaranya terangkat sedikit, cukup untuk membuat penutup dadanya sedikit lebih turun lagi, membuat putingnya sekarang terekspos di hadapan mata Alan. Putingnya yang merekah terlihat sangat keras dan mencuat menggiurkan dari bulat kenyalnya payudaranya yang indah.

Menyaksikan hal itu membuatku sangat terkejut sekaligus merasa api birahiku berkobar hebat, batang penisku langsung tebangun dan ereksi penuh. Aku tak bisa percayai kalau isteriku telah mengekspos dirinya dihadapan seorang pria seperti itu, dan aku tak bisa percaya kalau diriku sendiri merasa terangsang karena melihat kejadian tersebut. Apa yang salah dengan diriku?

Alan sangat menikmati waktunya mengamati keindahan payudara Dayu untuk bebeapa waktu, kemudian dia membungkuk mendekat ke arah Dayu dan membisikkan sesuatu di telinganya. Dayu tertawa genit dan kembali tangannya bergerak masuk ke air. Keduanya diam tak berbicara untuk beberapa saat sedangkan tangan Dayu bergerak naik turun di dalam air. Terlihat nyata kalau Dayu tengah mengocok batang pen|s Alan. Beberapa detik kemudian Dayu menoleh ke arahku dengan ragu-ragu. Aku yakin jika dia melihatku bergerak, maka dia akan langsung menghentikan apapun yang tengah dia lakukan itu, tapi aku tetap diam tak bergerak. Aku merasa seberapa besar rasa cemburu dalam dadaku, maka sebesar itu pula keinginanku untuk melihat apa yang akan terjadi berikutnya.

Setelah memastikan kalau aku masih tetap tertidur, Dayu turun dari tepian kolam lalu masuk ke dalam air. Sekarang dia berdiri berhadapan dengan Alan, penutup dadanya menempel diperutnya. Kedua tangannya kembali masuk ke dalam air lalu keduanya nampak sedikit menggeliat untuk beberapa saat. Aku hanya mampu menebak apa yang tengah mereka lakukan hingga celana renang Alan tiba-tiba saja muncul dari dalam air disamping tubuhnya. Dayu telah melepaskannya!

Keduanya tertawa berbarengan, lalu kembali Dayu memasukkan tangannya kedalam air. Nafas Alan mulai terlihat berat dan tatapan matanya terpaku pada payudara indah milik isteriku. Dayu hanya tertawa genit atas tatapan mata Alan pada payudaranya tersebut dan bahkan beberapa kali nampak dia sedikit menggoyangkan dadanya untuk memberikan sedikit tontonan pada Alan.

Dayu mulai menggerakkan tangannya naik turun dengan cepat dan semakin bertambah cepat, sementara itu Atatapan mata Alan tak pernah lepas dari payudara isteriku. Tiba-tiba Alan memejamkan matanya rapat-rapat dan menggigit bibir bawahnya. Dayu melihat ke bawah dan menatap air seakan terhipnotis saat Alan mulai menggelinjang. Setelah beberapa saat dia berhenti menggelinjang dan membuaka matanya kembali. Lalu Alan membisikkan sesuatu padanya yang membuat Dayu menjerit dengan nada genit marah dan mendorong Alan menjauh. Alan tertawa dan menggenggam celana renangnya, sedangkan Dayu memakai penutup dadanya kembali.

Aku sudah tak yakin lagi apakah yang mampu membuatku terkejut lagi, menyaksikan isteriku memasturbasi pria lain didepan mataku ataukah kenyataan bahwa tak ada seorangpun yang memperhatikannya. Melihat sekeliling, kusaksikan begitu banyak orang yang saling mencumbu, dan aku rasa mereka berdua merasa sangat yakin kalau tak ada seseorangpun yang memperhatikan apa yang mereka perbuat. Aku bertanya kalau diriku masih seorang pria lugu dan kolot lagi sekarang, benarkah begitu? Benakku menjawab, masih, namun batang penisku yang ereksi berkata tidak.

Setelah setengah jam berikutnya, Kristin berdiri, masih bertelanjang dada mengumumkan bahwa saatnya untuk pergi ke pantai telah tiba. Perusahaan telah menyewa beberapa van untuk mengangkut semua orang disana dan tidak memperbolehkan memakai mobil sendiri.

Aku pura-pura baru bangun dari tidurku saat Dayu berjalan mendekatiku. Dia masih agak mabuk, jika tak mau dikatakan mabuk dan kuputuskan untuk melihat apakah dia akan mengungkapkan semuanya. "Ada yang terjadi lagi saat aku tertidur?"
"Tak begitu banyak, sayang," jawabnya.
"Ada lagi yang mencuri lepas penutup dada?" desakku.
"Kenapa?" tanya istriku dengan nada menggoda. "Apa kamu ingin dengar tentang itu?"
"Mungkin," jawabku, meskipun dengan cara penyampaiannya itu membuatku terdengar sangat ingin mendengarnya.
"Well, tak ada lagi yang mencuri lepas penutup dada, tapi Alan masih ingin melihat payudaraku dan dia terus merajuk. Jadi kupikir dia juga sudah melihatnya, aku memberinya sedikit bonus lagi."
"Oh," jawabku.
"Jadi kuturunkan sedikit penutup dadaku dan membiarkan dia melihatnya. Tapi hanya itu saja. Tak apa-apa kan sayang? Kamu tak marah padaku karena sudah memperlihatkan payudaraku sebentar pada teman priaku?" jawabnya dengan nada merajuk.
"Aku rasa begitu..." jawabku datar. Aku sedang membayangkan dia memasturbasi Alan.

Kami mengemasi handuk kami dan kemudian berjalan mengikuti yang lain menuju ke area parkir. Kami masuk ke dalam van yang semua orang di dalamnya tak kukenal lalu mulailah kami berangkat menuju ke pantai. Jalanan yang dilalui sangat jelek dan membuat van yang kami tumpangi terlonjak-lonjak, namun aku tak begitu merasakannya karena aku tengah fokus pada usaha untuk mengingat apa yang kusaksikan pada Dayu dan Alan tadi.
 Â
Saat tiba di pantai, kuperhatikan kalau perusahaan juga sudah mengeset sebuah erena untuk permainan bola voli lengkap dengan net-nya dan segera saja Kristin dan Nana sudah berinisiatif untuk memuali sebuah pertandingan. Kuputuskan untuk rebah diatas pasir saja dan melihat, berusaha untuk menata perasaan dan melegakan himpitan dalam dada, sedangkan Dayu langsung bergabung dalam permainan. Kedua team terbagi dalam kelompok wanita dan pria. Sebenarnya pertandingan tersebut menyenangkan untuk disaksikan karena para pemainnya ternyata lumayan mahir dan juga karena para wanita terlihat begitu menawan saat melompat dalam balutan bikini minim mereka. Seiring jalannya pertandingan, suasana semakin bertambah panas, kata-kata jorokdan ejekan penuh sendau gurau terus bersahutan.

Sekarang tibalah saatnya bagi isteriku untuk serve. "Siap-siap guys, kali ini kalian ak akan bisa mengemblikan! " teriaknya.
"Kamu mau bertaruh untuk penutup dadamu?" teriak Eddie membalas.

Langsung terdengar riuh rendah suara menyambut dari para penontonnya. Dayu terdiam beberapa saat, mimik wajahnya menggambarkan ekspresi yang sangat seksi kemudian belas menyahut, "Kalau kamu tak bisa mengembalikannya, kamu harus melepas celanamu!"
"Ok, tapi itu tak akan terjadi sayang!" balas Eddie.

Dayu merespon dengan melempar bola ditangannya tinggi-tinggi dan mengirimkan sebuah serve yang sangat kuat. Aku tak yakin berapa banyak rekan kerjanya yang tahu, kalau dia saat kuliah dulu termasuk andalan dalam team bola voli. Bola tersebut mengarah sangat sesuai dengan yang dia inginkan, mendarat dengan tajam diantara dua pemain yang paling payah.

Para wanita bersorak menyambutnya sedangkan para pria terlihat menepuk kepalnya sambil mengerang kesal. Eddie bersiul dan menghadap ke arah Dayu, kemudian mencengkeram celananya kemudian menurunkannya. Batang penisnya tak sepanjang milik Dave namun jauh lebih besar. Benar-benar cukup besar untuk mengundang siulan dan teriakan dari para wanita. Dayu menatapnya dengan senyum birahi tergambar pada wajahnya. Belum pernah diamenatap bang penisku dengan ekspresi seperti itu sebelumnya.

Dayu bersiap untuk serve berikutnya dan berteriak pada seorang pria yang tak kukenal, "Hey, Don! Mau bertaruh yang sama juga?"
Doni melihat ke arah Eddie, lalu beralih ke dada isteriku dan kemudian menjawab, "Tentu saja!"

Dayu memberikan sebuah serve penuh tenaga lagi, namun kali ini para pria sudah lebih siap menyambutnya. Salah seorang pria melompat menyambut datangnya bola, bola tersebut melayang cukup tinggi bagi Dave untuk menyambutnya dengan smash yang keras. Para wanita terlihat terkejut dengan serangan tersebut, dan begitu bola mendarat mulus diatas pasir, para pria berteriak menyambutnya, "Lepas! Lepas!"

Dayu menutup wajahnya dengan kedua telapak tanganna, dia tertawa malu, lalu tangannya bergerak kebelakang tubuhnya untuk melepaskan penutup dadanya. Dia menahannya didada untuk beberpa saatdan kemudian melepas kain penutup dada tersebut ke samping. Payudara bulat indahnya yang dihiasi putting merah mencuat terpampang jelas tanpa penghalang lagi. Para pria mulai bersiut dan berteriak menyambutnya, sedangkan Dayu tampak memerah wajahnya dan tertawa.

Dayu memainkan sisa pertandingan dengan bertelanjang dada, membuat semua orang mendapatkan sebuah tontonan indah. Setiap kali dia berlari atau melompat untuk mengembalikan bola, payudaranya akan memantul dengan seksi. Kuperhatikan semua selangkangan para pria terlihat menonjol karena ereksinya melihat semua gerakan isteriku, khususunya Eddie.

Tak lama kemudian game tersebut berakhir dengan kemenangan dipihak team isteriku. Dayu dia berjalan memungut penutup dadanya, tapi tak memakainya kembali. Lalu dia berjalan menghampiri Eddie, yang baru saja mengambil celananya. Kuamati dia agak merentangkan punggungnya ke belakang, membuat payudaranya lebih menonjol kedepan. Mereka mulai mengobrolkan sesuatu, dan kuperhatikan pandangan isteriku lebih sering tertuju pada batang pen|s besarnya Eddie dan mata Eddie seakan juga tak mau lepas dari dada isteriku.

Eddie mengucapkan sesuatu, lalu mendorongkan batang penisnya kearah isteriku. Dayu tertawa genit dan menggelengkan kepalanya, tapi pandangannya tak beralih dari batang pen|s tersebut. Eddie tetap pada posisinya, tak bergerak dan setelah beberapa lama tangan isteriku menggapai ke depan dan menggenggam batang pen|s milik Eddie. Dia memeganginya sejenak, kemudian dia sedikit menggoyangkannya dan dia tertawa senang.

Eddie juga tertawa, kemudian tangannya terjulur kedepan dan menarik bagian depan dari kain penutup selangkangan yang dipakai Dayu. Dia membungkuk kedepan untuk mengintip vag|na isteriku, sedangkan Dayu menjerit malu namun tak berusaha menghentikannya.

Tiba-tiba saja Eddie menyentakkannya turun hingga ke pergelangan kaki isteriku. Dayu menjerit, membuat semua orang menoleh ke arahnya dan menyaksikan vaginanya yang dihiasi rambut tercukur rapi terekspos penuh. Tubuh indah isteriku telah telanjang seutuhnya sekarang, dan ekspresi malunya semakin membuatnya terlihat sangat cantik.

Dengan cepat Dayu menaikkan penutup tubuh bawahnya dengan diiringi sorakan para pria, namun dia tak memakai kembali penutup dadanya. Matahari sudah mulai beranjak ke peraduannya sekarang, lalu Kristin meminta semua orang untuk kembali ke resort, semuanya diminta untuk berkumpul kembali di hot tub jam 10 nanti.

Kami mulai berkemas dan berjalan menuju mobil, kami berjalan dengan santai dan saat kami tiba ke tempat parkir, yang tersisa hanya sebuah mini-van kecil dan orang yang masih ada berjumlah delapan orang. Iseriku adalah satu-satunya wanita dikelompuk ini dan pria yang kukenal dalam grup ini hanyalah Gary dan Dave. Garry naik ke kursi pengemudi dan menyuruh kita semua untuk segera masuk ke dalam mobil.

Barusaja aku hendak menyuruh isteriku agar duduk di kursi belakang, namun Dave yang berada dikursi depan berkata, "Hey, Dayu, duduk disini saja, kupangku! Biar semuanya cukup."

Dayu sama sekali tak melirikku untuk meminta persetujuan. "Oke," dia tertawa manja, "Tapi jangan macam-macam! " Kemudian dia naik ke pangkuan Dave, dengan masih hanya memakai penutup tubuh bawahnya saja. Para pria yang lainnya dengan cepat saling berebut naikke kursi tengah, membuatku terpaksa duduk jauh dibelakang.

Semua orang kecuali aku dan Gary sudah dalam keadaan lumayan mabuk. Aku duduk dibelakang, disamping seorang pria yang keadaannya sudah mabuk berat, dan berbicara tentang sepak bola dengan suara yang sangat keras. Semua orang nampak asik dengan topik yang diangkat pria ini, jadi ada empat orang pria yang mabuk saling teriak satu sama lainnya dalam mini-van ini.

Aku tak begitu ingin ikut masuk dalam pembicaraan mereka, karena aku ingin konsentrasi mengawasi isteriku yang berada di depan. Aku tak mau Dave mengambil kesempatan dlam situasi ini. Sudut pandangnku sangat kurang menguntungkan dan aku harus membungkuk ke depan untuk dapat melihat apa yang terjadi dikursi depan.

Pada awalnya kulihat isteriku nampak bersandar ke tubuh Dave di belakangnya, yang berusaha memasang sabuk pengaman ke tubuh mereka berdua. Itu membuatnya harus meraih kedepan dan tangannya menyentuh payudara Dayu karenanya. Dave melakukannya lebih lama dari yang seharusnya, tapi Dayu hanya membiarkannya saja.

Kami mulai memasuki jalanan yang jelek, membuat mini-van ini melompat-lompat dan yang berada didalamnya terguncang. Ditengah guncangan yang terjadi itu kuamati tangan Dave yang semula berada di dada Dayu bergeser ke pahanya. Keduanya asik mengobrol dan tertawa-tawa, tapi karena keberadaanku di belakang dan ditambah pula suar berisik para pria mabuk ini yang membicarakan sepak bola dengan sura yang keras membuatku dapat mendengar apa yang tengah dibcarakan Dayu dengan Dave.

Satu dari pria mabuk ini menoleh padaku dan bertanya tentang team sepak boal favoritku. Aku berusaha untuk tetapa fokus pada kejadian di kursi depan, tapi aku tak ingin menarik perhatian para pria mabuk ini. Jadi kujawab pertanyaaan pria tersebut dan mulai masuk dalam perbicangan tentang sepak bola ini. Jalanan yang kami lalui bertambah semakin parah, dan aku harus susah payah menjaga posisiku agar tetap stabil dan pada perbincangan tersebut.

Saat akhirnya aku bisa melirik ke arah depan lagi, keperhatikan Dayu dan Dave sudah tak memakai sabuk pengaman lagi. Tak ada yang kelihatan aneh. Tangan Dave masih berada dipinggang isteriku, meskipun sekarang posisi duduk Dayu agak lebih naik di pangkuan Dave dan terguncang naik turun. Kupikir guncangan tersebut disebabkan oleh buruknya kondisi jalan, namun saat mobil berhenti dilampu merah, kuperhatikan tubuh Dayu tetap bergerak naik turun. Aku tak bisa melihat ekspresi keduanya dan tiba-tiba saja sebuah prasangka buruk menyergap otakku, mungkin saat ini Dave sedang menyetubuhinya. Kecurigaanku semakin besar saat kuamati mereka berdua sama sekali diam tak saling bicara.

Disisa perjalanan aku membungkuk ke depan dan mengamati tubuh isteriku terayun naik turun, menerka-nerka tentang kemungkinan kemungkin yang terjadi dikursi depan. Setelah sekitar dua puluh menitan, mobil berbelok arah dan sudah tampak resort di depan.

Aku yang paling terakhir keluar dari dalam mobil dan aku bergegas menyusul Dayu yang sudah berjalan didepan bersama Dave dan Gary. Saat akhirnya aku berhasil menyusulnya, kuperhatikan kalau wajahnya tampak memerah dan dia sedikit berkeringat.

"Hey," kataku, saat semua pria sudah berjalan menjauh didepan. "Apa yang sudah terjadi dikursi depan tadi?"
"Apa? Apa yang sudah kamu lihat?" tanyanya, terdengar terkejut namun juga bersemangat.
"Aku tak bisa melihat, tapi kuperhatikan kalau Dave terlihat sangat menikmati keadaannya," jawabku mencoba berkilah.
"Jangan marah, sayang, kami hanya bercanda saja," dia mulai menjelaskan. "Dave terus mengeluh tentang celananya yang sangat sesak, jadi aku menyuruhnya untuk menurunkannya sedikit kalau dia mau. Sebenarnya aku cuma bercanda dan bermaksud menggodanya saja. Aku tak bermaksud agar dia benar-benar melakukannya, tapi dia sungguh-sungguh melakukannya. Andai saja kamu melihat betapa batang penisnya sungguh sangat besar " terangnya dengan suara pelan namun punuh gairahÂ
"Sayang, batang penisnya itu sungguh besar. Aku menggeseknya dengan pantatku beberapa saat. Lalu dia sepertinya menarik penutup tubuh bawahku kesamping dan kepala penisnya menyelinap masuk ke dalam bibir vaginaku begitu saja. Aku rasa itu tak sengaja. Dan kamu tahu kondisi jalannya yang sangat parah kan? Tubuhku jadi terangkat naik turun dan itu membuat batang penisnya semakin masuk bertambah dalam, hingga akhirnya… kamu mungkin tak percaya sayang, batang penisnya jadi masuk semuanya! Tapi baru sebentar saja aku merasakan vaginaku terisi penuh, mobilnya menghantam gundukan yang besar dan batang penisnya jadi tercabut keluar begitu saja, lalu kubetulkan lagi penutup tubuh bawahku dan selesai, itu saja."

Ekspresi wajahnya jadi bergairah dan menghiba disaat yang bersamaan. "Tak apa-apa kan sayang? Bukan masalah besar kan? Ini benar-benar kecelakaan dan lagipula dia tak sampai keluar."

Aku sama sekali tak mampu bicara. Isteriku telah berterus terang dengan sangat gamblang kalau dia baru saja menyetubuhi seorang pria. Tapi apa yang bisa kuperbuat? Aku tak mungkin membuat keributan besar di resort ini, di hadapan semua orang.

"Yah... kalau dia tak sampai keluar, kurasa itu tak maslah," akhirnya jawabku lirih.
"Kamu sungguh suami yang sangat pengertian sayang!" teriaknya senang sambil memelukku. "Ayo, kita cari sesuatu untuk makan malam!

Dinner berlalu tanpa ada kejadian berarti. Kami makan sandwich di kamar hotel. Aku lebih diam sekarang, berharap Dayu akan meminta maaf atau mngucapkan sesuatu tapi dia sepertinya terlihat menghindar terus.

Aku berbaring di atas ranjang, bermaksud untuk mengistirahatkan mataku sebentar, tapi aku pasti telah jatuh tertidur. Saat aku bangun, jam sudah menunjukkan pukul 10:30, dan Dayu sudah tak berada di dalam kamar. Aku bergegas turun menuju emperan belakang hotel.

Orang-orang sudah ramai di sekitar hot tub, minum dan tertawa. Dayu memang sudah berada disana, dia pasti sudah pergi dulu saat aku tertidur tadi. Beberap wanita sudah tak memakai penutup dada lagi, dan telah banyak yang saling bercumbu dengan terang-terangan. Susana ini seperti layaknya pesta saat kuliah dulu, bukan sebuah pesta kantor.

Dayu berjalan menghampiriku, dia sudah dalam keadaan mabuk dan langsung memberiku sebuah pelukan hangat.

"Sayang, tak apa-apa kan kalau aku lepaskan semua penutup tubuhku?" tanyanya.
"Apa?" aku sangat terkejut. "Semuanya?"
"Ayolah sayang, bukan masalah besar kan?," jawabnya. "Semua orang sudah melihat payudaraku, dan beberapa orang juga sudah melihatku telanjang saat Eddie menurunkan penutup tubuh bawahku. Orang lain juga sudah telanjang, kita semua disini memang datang kesini untuk bersenang-senang dan merasa nyaman."

Dayu tak menunggu responku, dia hanya berbalik dan berjalan menuju hot-tub dan mulai melepas pentup dadanya. Saat para pria mulai bersiul padanya, dia menurunkan penutup tubuh bagian bawahnya, memperlihatkan pantatnya yang bulat dan kencang. Para pria yang berada dihadapannya mendapatkan pemandangan menawan dari vaginanya, dan semua orang menatap ke arahnya saat dengan perlahan dia mulai turun dan masuk ke dalam hot tub.

Dayu menyusup diantara wanita lain yang juga bertelanjang dada dan kemudian duduk, menurunkan tubuhnya hingga hanya bahunya yang nampak menyembul dari atas permukaan air. Setidaknya dia membiarkan air menutupi tubuhnya, pikirku.

Aku berjalan menuju ke bar di dekat situ dan minum beberapa botol bir dingin lalu berbincang dengan para pria yang berada di sana. Perhatianku tertuju pada sekelompok orang di sebuah sudut didekatku dan kulihat Melly berada dalam kelompok tersebut. Dia bertelanjang dada, payudaranya yang kecil namun terlihat kencang tersebut nampak indah dihiasi putting yang lebih besar dari milik isteriku dan mencuat keras. Terlihat dia sangat semangat bicara dan itu membuat semua pria disekelilingnya tertawa. Tiba-tiba saja dia menurunkan bagian depan dari penutup tubuh bawahnya dan memperlihatkan vaginanya yang tercukur bersih. Para lelaki tersebut riuh menyambutnya dan mata mereka melahap dengan rakus pemandangan indah dan gratis dihadapan mereka.

Aku fokuskan perhatianku untuk berusaha mendengar apa yang mereka perbincangkan. "Rasanya sungguh hebat!" kudengar Melly berkata sambil menaikkan lagi penutup tubuh bawahnya. "Sekali kamu di wax, kamu tak akan bisa berhenti lagi! Suruh kekasih kalian untuk mencobanya."
"Yeah, kalau kamu bilang begitu," salah seorang pria berkata. "Maksudku, itu memang terlihat bagus. Aku akan bilang kekasihku tentang ini."
"Mungkin dia akan lebih merasa yakin kalau kamu melakukannya lagi," canda salah seorang pria. Pria yang lainnya tertawa dengan riuh menimpalinya.

Melly memutar bola matanya dengan seksi. "Ini, lihat yang baik," katanya lalu menurunkan penutup tubuh bawahnya tersebut hingga ke mata kakinya. Sekarang telanjang bulat, dia tersenyum sambil menggoyanggan pinggulnya yang disambut engan siulan nakal para pria.

Aku sedang terpesona dengan tubuh kencang milik Melly saat telingaku mendengar seseorang dari arah hot tub berteriak, "Ini terlalu penuh!"

"Hey Dayu, duduk dipangkuanku sini!" kata Eddie. "Biar yang lain kebagian tempat!"
Isteriku tertawa manja. "Tapi orang-orang akan bisa melihat dadaku!"
"Bagus kan!" balas Dave, diiringi suara tawa orang-orang.
"Ayolah, lagipula kami sudah pernah melihat semuanya tadi," jawab Eddie.

Dayu tertawa lalu berdiri, mengangkat payudaranya dari dalam air. Dia berjalan melintas dan duduk dipangkuan Eddie, terlihat payudaranya terguncang saat dia duduk.

Eddie merangkulnya dan memegangi kedua daging payudara isteriku dengan telapak tangannya. "Nah, begini" katanya, "sekarang tak seorangpun yang bisa melihat payudara Dayu!"

Semua orang tertawa, termasuk isteriku.

Lalu mereka kembali asik mengobrol lagi, namun perhatianku tetp tertuju pada isteriku dan Eddie. Tangannya tetap tak dia singkirkan dari dada isteriku, dan tak beberapa lama kemudian tangannya mulai bergerak meremas dan membelai. Dayu bersandar ke belakang dan membisikkan sesuatu ke telinga Eddie, dan kemudian tangan Eddie mulai memilin putingnya dengan lembut. Dayu tersenyum lebar dan mengatur posisi tubuhnya hingga Eddie lebih leluasa meremas dan membelai payudaranya.

Aku baru saja hendak melangkah mendekati isteriku saat Nina berjalan mendekatiku dan mulai bicara. Aku tak mau bersikap kasar, kudengar dengan seksama saat dia yang kondisinya sudah mabuk tersebut muali bicara betapa cantik baiknya isteriku dan bagaimana senangnya dia bisa bekerja bersama Dayu dikantor. Aku terus berusaha melirik kea rah isteriku dan Eddie tapi Nina menghalangi pandanganku. Setelah beberap lama aku menyerah dan mengalihkan seluruh perhatianku pada Nina. Dia terlihat sangat menarik dengan rambut ikalnya yang panjang dan postur tubuh yang menyerupai seorang model. Dia mengenakan pakaian renang one-piece warna hitam yang terlihat tak mampu menampung payudaranya yang begitu besar. Aku merasa nyaman memandanginya, karena keadaannya yang mabuk jadi dia tak akan menyadarinya, atau mungkin juga karena keadaanku yang sudah agak mabuk. Dia terus bicara tentang dirinya.

"Kamu mau melihatnya?" tiba-tiba dia bertanya padaku, menyentakkanku dari lamunan.
"Mm, melihat… nya?" jawabku, mencoba menutupi kalau aku tadi tak memperhatikannya
"Anting pusarku! Kamu mau melihatnya?" dia mengulangi.
"Uh, tentu," jawabku. Aku tak begitu yakin bagaimana cara dia memperlihatkannya padaku, karena itu berada dibalik pakaiannya, dan pada awalnya dia berusaha menyingkapkan pakaian renangnya untuk memperlihatkan pusarnya padaku. Tapi pakaiannya tersebut sangat ketat. Setelah beberapa saat dia kemudian menyerah, dan yang membuatku terkejut, dia mulai menurunkan tali penahan dari bahunya. Dia turunkan hingga pinggangnya, mengekspos payudaranya yang besar dan perutnya yang kencang.

"Lihat kan?" katanya sambil menunjuk anting di pusarnya. "Aku rasa agak kebesaran ukurannya."

Aku sedang berusaha agar terlihat memperhatikan antingnya, tapi mulutku menjawab dengan terbata-bata dengan mataku yang tak mau lepas dari dadanya.

"Aw, kamu sangat manis," jawabnya. "Dayu sangat beruntung memilikimu!" Kemudian dia melangkah pergi, dengan dadanya masih terekspos, meninggalkanku berpikir ada apa dengan orang-orang ini.

Tiba-tiba aku kembali teringat akan isteriku dan Eddie, lalu aku menoleh tepat disaat kulihat Dayu sedang mengangkat tubuhnya dari pangkuan Eddie. Keduanya terlihat berat nafasnya dan Eddie tersenyum dengan lebar. Dia bangkit dan mengangkat tubuhnya dari dalam tub dan sekarang kulihat dia telanjang bulat, batang pen|s besarnya terayun-ayun diselangkangannya. Bayangan tubuh telanjang isteriku diatas pangkuannya segera membuatku merasa resah dan khawatir kalau pria ini sudah menyetubuhi isteriku seperti halnya Dave.

Kulihat ke arah isteriku lagi dan kulihat dia tengah duduk di dalam hot tub dan asik mengobrol dengan salah seorang wanita yang bertelanjang dada. Wanita tersebut menunjuk ke arah Eddie dan Dayu mengangguk, lalu keduanya menjerit genit dan tertawa keras.

Di titik ini aku merasa sudah terlambat untuk berbuat sesuatu, dan hanya berdiri saja disana melihat semua yang tengah terjadi. Aku mulai merasa aneh dan takut kalau aku tak lagi memusingkan ini semua. Tanpa memberitahu isteriku, aku putuskan untuk kembali ke kamar. Aku rasa kalau dia melihatku pergi, dia akan sadar kalau aku sudah marah

Oh, ternyata aku salah. Aku tak bisa memejamkan mata dan sangat resah. Tiga jam berikutnya Dayu akhirnya masuk ke dalam kamar. Dia masih telanjang bulat dan tangannya memegangi pakaian renangnya. Setelah dia mandi dan kemudian menyusulku naik ke atas ranjang,merebahkan tubuhnya dengan punggungnya menghadap ke arahku.

Aku berharap dia akan mengucapkan sesuatu, tapi tak terdengar apapun kecuali kesunyian. Setelah beberapa lama, aku merasa takut kalau dia jatuh tertidur akhirnya aku bicara. "Jadi, apa yang sudah terjadi di hot tub?" bisikku.

Dia membalikkan tubuh dan memandangi ekspresi wajahku. Tangannya bergerak ke dalam celanaku dan mulai membelai batang penisku saat dia mulai bicara.

"Oh, jangan marah sayang, tapi aku memang agak terbawa suasana. Saat aku mulai masuk ke dalam hot tub, Eddie bergurau dengan mengatakan kalau sudah tak ada tempat lagi bagi kita semua dan dia menyuruhku untuk duduk di atas pangkuannya. Jadi aku pindah untuk duduk di atas pangkuannya agar semuanya mendapat tempat. Dia mulai bermain dengan payudaraku dan itu sangat membuatku terangsang. Jadi kubiarkan dia melakukannya lebih lama lagi. Kemudian dia menarikku lebih merapat dan aku jadi tahu kalau dia tak memakai apapun lagi, tapi sebelum aku sempat bereaksi, dia sudah lebih dulu mendorong batang besarnya masuk ke vaginaku!"

"Dia mulai mengocoknya keluar masuk dan itu terasa sungguh indah, itulah kenapa kubiarkan saja dia melakukannya. Dan kurasa para pria lainnya juga tahu yang sedang terjadi, karena kemudian semuanya yang berada di hot tub memandangi kami berdua tanpa berkedip. Aku jadi merasa malu dan berpikir untuk menghentikannya, tapi kemudian kurasakan dia menusukkan seluruh batang penisnya ke dalam vaginaku dengan keras dan kurasakan batangnya itu berdenyut. Kamu tidak marah, kan? Aku benar-benar tak merencanakan dia keluar di dalam tapi itu sudah terlambat."

Dia berhenti beberapa saat.

"Itu... bukanlah semua yang terjadi," ucapnya agak ragu.
"Sayang, berapa pria yang memasukkan batang pen|s mereka ke dalam vaginamu?" tanyaku, tak berharap dia menjawabnya.
"Yeah, sebenarnya semuanya, setidaknya sekali saja," jawabnya. "Tapi itu salah satu bagian dari game yang berlangsung! "
"SEBUAH GAME?" tanyaku dengan nada cukup keras, dan kocokan tangannya pada batang penisku semakin bertambah cepat dan keras.

"Ya, setelah beberapa lama kemudian," sambungnya, "Kami semua sudah benar-benar mabuk. Maksudku sangat, sangat mabuk. Dan berikutnya hanya tinggal Kristin, Melly, Nina dan aku saja yang berada dalam hot tub bersama dengan semua pria. Dan beberapa pria mulai berdebat tentang batang pen|s siapa yang paling besar. Lalu Melly menyarankan biar para wanita saja yang memutuskan. "

"Kemudian para pria mulai melepas celana mereka dan membiarkan para wanita melihatnya. Sayang, aku tak tahu apakah aku memang sudah sangat mabuk atau bagaimana, tapi kulihat mereka semua sangat besar! Bahkan yang paling kecilpun terlihat masih agak lebih besar dibanding milikmu ini. "

"Kami mulai penilaiannya, tapi kemudian Eddie kelepasan bicara kalau dia sudah menyetubuhiku, dan itu jadi tak adil lagi karena aku sudah tahu lebih banyak dibandingkan yang lainnya. Dan Dave juga mengatakan kalau dia juga sudah melakukannya denganku, meskipun tidak sampai keluar. Lalu Gary mengatakan bahwa dia dan Melly juga sudah bersetubuh saat dipantai. Hingga akhirnya Kristin memutuskan agar adilnya, semua pria harus memasukkan tiap batang pen|s mereka ke dalam vag|na tiap wanita, jadi para wanita akan tahu semua bagaimana rasanya. Bukan bersetubuh atau yang lainnya, hanya memasukkannya sebentar. Dengan begitu akan adil bagi penilaian para wanita. Kamu pikir juga begitu kan, sayang?"

Dalam kondisi normal pasti akan kutolak penjelasan logikanya, tapi perbuatan tangannya pada batang penisku sudah berefek, dan aku hanya mampu menelan ludah lalu mengangguk.

"Jadi kami semua akhirnya setuju dan para pria mulai mengambil gilirannya. Aku mendapatkan Alan untuk pertama kalinya, dia masukkan batang penisnya ke dalam vaginaku dan mulai mengocoknya keluar masuk beberapa kali, agar aku bisa merasakan dan membuat penilaian. Batang penisnya terasa lebih besar dari ukuran aslinya saat aku berhasil membuatnya orgasme."

Aku tahu itu! Dayu terlalu mabuk untuk mengingat kebohongannya diawal tadi.

"Dan berikutnya Eddie lagi dan kemudian Gary. Mereka berdua menusukkan batang penisnya untuk beberapa saat agar aku bisa melakukan penilaian pada batang pen|s mereka. "

"Lalu akhirnya giliran Dave. Dia yang paling akhir, dan dia berbisik ditelingaku kalau tak adil jika kami tak menyelesaikan apa yang sudah kami awali di dalam mobil sebelumnya. Kemudian dia mulai memasukkan batang penisnya ke dalam vaginaku. Dialah yang paling besar, itu sudah pasti dan juga paling keras! Dan aku sudah merasa sangat terangsang setelah beberapa pria sebelumnya, dan aku adalah wanita yang terakhir bagi Dave. Jadi aku membiarkan dia menyetubuhiku agak lebih lama dibandingkan yang lainnya. Para wanita lainnya juga melakukan hal yang sama pada pria yang mendapatkan giliran terakhir dengan mereka, jadi aku rasa itu bukan masalah dan masih adil penilaiannya. Kami semua seolah saling berlomba bersetubuh untuk beberapa waktu lamanya hingga akhirnya kurasakan spermanya menyembur hebat dalam vaginaku. "

"Itu semua yang terjadi, sayang. Bukan masalah besar, kan?"
"Bukan," nafasku tecekat ditenggorokan saat aku orgasme, lebih hebat dari yang pernah kurasakan seumur hidupku. Aku tiba-tiba merasa menyesalinya, karena itu membuatku terlihat menikamti menyaksikan isteriku sendiri disetubuhi oleh sekelompok pria yang mereka semua dalah rekan kerjanya sendiri. Padahal sesungguhnya aku harus merasa marah karenanya.

"Aku rasa kamu menyukainya, " jawabnya lirih. Lalu dia membalikkan tubuhnya dan menarik selimut ke atas. "Selamat tidur, sayang, I love you"
read more...

Adikku Dan Teman-temannya

Perkenalkan nama saya Ratih, angkatan 2003 seorang mahasiswi semester II di sebuah universitas swasta favorit di Jogja. Aku mohon kepada webmaster supaya menampilkan kisahku yang menyedihkan ini karena hanya disini aku bisa curhat dan menuntaskan semua “uneg-uneg”ku yang membuatku menderita selama ini.

Aku mau bercerita tentang pengalamanku yang sungguh-sungguh terjadi dengan adikku yang bernama Rafi, ia masih 17 tahun kelas 2 SMU Negeri, ia orangnya ceria, lucu, nggak pemarah, dan enak diajak ngobrol, jadi kukira ia orang yang baik dan menyenangkan, tapi ternyata juga mempunyai sifat yang mengerikan pula jika emosinya meledak, dan mempunyai nafsu birahi yang besar, apalagi jika terangsang sesuatu yang
berhubungan dengan sex meskipun itu dari saudaranya sendiri atau dengan kata istilah lain “phsyco”.

*****

Suatu hari, ketika aku pulang kuliah sore, aku menyempatkan diri ke kamar adikku mau mencari buku komik kesukaanku yang baru dipinjam tiga hari oleh adikku. Saat mencari-cari aku tidak sengaja menemukan beberapa VCD porno di meja belajarnya dicampur dengan CD-CD PSnya, aku kaget bukan main, karena tidak menyangka adikku suka nonton film-film porno, aku juga curiga akhir-akhir ini, ia pendiam, dan jarang ngobrol denganku, dan yang paling mencurigakan adalah ia barusan mengisi film kamera digitalnya dengan alasan mau memfoto-foto gadis yang mau diincarnya selama ini, aku tidak menyangka gadis yang dia incar selama ini adalah aku sendiri, saudara kandungnya. Tetapi karena orang tuaku sedang keluar kota, aku jadi tidak bisa memberitahu mereka tentang VCD pornonya selama ini, jadi aku biarkan saja.

Besoknya, saat aku hendak pergi kuliah pukul setengah satu siang, dan kebetulan hari itu adikku sudah pulang dari sekolah, ia mengajak 3 orang temannya masuk ke dalam rumah dan nonton TV bersama, mereka si-A yang bertubuh kekar dan berkulit hitam legam, si-B yang berbadan gemuk tapi agak pendek, dan si-C yang kelihatan paling tua karena berbrewok agak lebat, mungkin umurnya sama denganku atau bahkan lebih tua. Aku tidak pernah melihat mereka sebelumnya.

Saat aku mau berangkat, aku sempat curiga dengan sikap adikku karena dia melihatku terus-menerus dan nafasnya juga agak terengah-engah, aku hanya mengira ia cuma kecapean pulang dari sekolah, ternyata tidak sebab tiga temannya tidak pada merasa kecapaian. Ia terus memandangi tubuhku dari atas kebawah, aku jadi agak takut apakah dia merasa terangsang melihat tubuh dan bajuku yang seksi, sebab aku memakai hem ketat putih lengan pendek, BHku yang berbentuk tali dan berwarna hitam untuk menutupi payudaraku yang berukuran 36B terlihat jelas karena memang agak transparan. Dan aku memakai celana jeans sangat ketat dengan sebagian CDku nampak, dan pantatku yang bulat dan sering diremas oleh kondektur bis saat naik dan turun dari bis kota terlihat lebih menonjol, apalagi kulitku juga putih bersih karena aku keturunan Cina di ayahku dan ibuku orang bandung.

Aku memakai baju seksi ini karena aku mau tampil menarik di depan pacarku yang namanya Vandy yang baru 3 hari jadian. Saat mengambil kunci motorku, aku semakin penasaran karena teman-teman adikku memberikan uang ratusan ribu kepada adikku dan juga ikut memandangi tubuhku saat aku jalan di dekat mereka. Aku menduga mereka merasa terangsang oleh bau parfumku yang memang agak menyengat dan bertujuan untuk memberi rangsangan kepada cowok.

Saat aku hendak membuka pintu, dari belakang secara tiba-tiba aku disekap oleh tangan yang hitam, agak bau dan kotor, ternyata tangannya si-A teman adikku, aku kaget dan berontak tetapi sia-sia karena dia lebih tinggi dariku dan badannya juga lebih besar berkulit hitam dan karena aku melawan terus aku dipukul perutku oleh Rafi(adikku) sendiri, sehingga aku jadi lemas. Kemudian si-B teman adikku yang lain mengangkat kedua kakiku dan menggendongku bersama si-A ke ruang TV, sementara si-C mengeluarkan VCD BFnya dari dalam tas, kemudian menyetelnya ke TV, mereka tersenyum-senyum, apalagi adikku lebih gembira sambil menghitung uang dari tema-temannya, aku sudah mengerti itu pasti uang untuk menikmati tubuhku yang masih suci ini untuk diperkosa bersama-sama oleh mereka.

Aku sudah pasrah hanya bisa meneteskan air mata ketika bajuku mulai dilepas kancing bajuku satu-persatu sambil diraba-raba dan diremas-remas payudaraku oleh mereka, sementara wajahku diciumi, dijilati dan sedikit digigiti hidungku yang memang lebih mancung dari hidung adikku ini oleh Rafi, si-B melepaskan ikat pinggangku dan melepaskan celana jeansku, kemudian ia melucuti celana dalamku perlahan-lahan sambil meraba-raba pahaku,

“Wow paha Mbak putih dan mulus banget hmm.. Harum lagi”

Sementara bagian atas, si-A sudah tidak sabar dan langsung memotong-motong tali BHku dengan gunting, akhirnya aku telanjang bulat, mereka memandangiku seperti hewan kelaparan yang hendak memangsa buruannya sambil membuka seragam SMU Negeri mereka. Adikku langsung menerkam aku, aku hanya bisa memohon.

“Jangan Dik, aku ini Mbakmu..”

Tapi dia sudah tidak sabar dan langsung meremas-remas payudaraku yang masih kencang dan putih bersih ini, lalu ia menggigit putingku yang belum pernah tersentuh lelaki lain hingga memerah, dibagian bawah kakiku si-C menggerayangiku dengan menjilati dan menggigiti “bulu-bulu”ku yang masih lebat.

Adikku melumat bibirku, lalu kebawah sambil menjilat-jilat kulit tubuhku sampai ke alat vitalku dan melumat vaginaku yang masih suci itu, aku hanya bisa menangis, lalu adikku mulai menegakkan penisnya sepanjang 18 cm itu ke atas vaginaku, dan bicara.

“Ok Mbak waktunya ngambil keperawananmu Mbak.. He he he”
“Jangan Fi, pleass.. Ooch.. Aduh.. Aauw sakit fi” belum selesai aku bicara sudah dimasuki pen|s adikku.
“Aach.. Uuch masih seret tapi enak.. Bener Mbak, vaginamu ini Mbak!!”

Meski agak sulit menembus vaginaku karena masih perawan, tapi ia terus memaksa sekuat-kuatnya.

“Aach.. Waow nikmatnya bukan main vaginamu Mbak.. Ooch.. Yes!!” aku merasa kesakitan
“Aach.. Uuch.. Udah Dik, sakit!”

Saat aku menjerit-jerit tiba-tiba mulutku disumbat pen|s yang lumayan besar, panjang, berwarna hitam dan bau air kencing ternyata itu penisnya si-A.

“Ayo Mbak diemut nih kontolku ha.. Ha.. Ha,” aku hanya menangis terus, karena kedua mulutku (atas-bawah) dihunjam pen|s yang besar-besar.
“Mmph.. Mmpphh”

Selama 10 menit Rafi mengeluarkan penisnya dan bergantian dengan 3 orang temannya, dan akhirnya selama setengah jam mereka menyemprotkan sperma mereka ke lubang vaginaku, hanya si-B yang mengeluarkan spermanya ke mulutku. Dan mereka merasa senang dan puas melihat aku menderita, setelah puas mereka mengikat tangan dan kakiku agar tidak kabur meskipun aku juga tidak mungkin bisa lari karena tubuhku sudah sangat lemas, dan mereka istirahat sambil merokok, minum-minuman penguat tenaga, kukira semua penderitaan ini sudah selesai.

Satu jam kemudian setelah mereka merasa kuat karena minum jamu dan penguat tenaga lainnya, mereka melepaskan semua tali yang mengikatku, kemudian memperkosaku lagi secara lebih brutal, si-C meletakkan aku di atasnya dengan posisi telentang dan langsung menghunjam lubang anusku dengan penisnya sambil meremas-remas payudaraku dari bawah yang sudah mengencang kuat.

“Aach.. Ooch duburmu seret Mbak, tapi wuenak tenan,”

Aku hanya dapat menjerit kesakitan sambil menangis.

“Aach.. Jangan.. Ooch.. Sakit Mas”

Lalu adikku menghampiriku, dia berada tepat diatasku dan mengangkat kedua kakiku supaya mudah posisinya dan langsung memasukkan penisnya yang sudah menegang akibat efek minuman tadi ke vaginaku yang masih mengeluarkan sedikit darah keperawanan, sambil berebutan dengan si-C yang sama-sama sedang meremas-remas payudaraku yang semakin mengencang. Aku hanya bisa mengerang kesakitan.

“Aach.. Uuch.. Jangan Raf, kumohon sudah aja.. Aach sakit.. Oochh!!” saat mulutku menganga menjerit tiba-tiba disumbat oleh pen|s si-A.
“Mmph.. Mmpphh”

Aku tidak bisa menjerit, semua lubang ditubuhku seperti mulut, vag|na, dan anusku sudah disumbat pen|s-pen|s berukuran besar dan panjang, karena ini pemerkosaan kedua jadi tidak selama yang pertama ‘hanya’ 15-20 menit, sampai mereka menyemprotkan sperma mereka bersamaan.

Tapi karena si-B belum “menyerangku” dalam aksi keduanya, ia bergantian dengan adikku yang sudah lemas, ia menyuruhku berganti posisi dengan berlutut di sofa, ia mulai menjilat-jilat dan menampar-nampar pentatku ini berkali-kali hingga memerah.

“Wow pantat Mbak gede juga, mulus lagi”

Karena vaginaku masih terbuka ia langsung menghunjam keras secara cepat sambil menarik-narik putingku selama kurang lebih 15 menit.

“Aachh.. Uuch.. Sakit Mas udah dong Mas, aku dah cape sekali nih!”

Dan tubuhku yang sudah lemas ini dibalik dalam posisi telentang, lalu ia mengocokkan penisnya dan mengeluarkan spermanya tepat diatas dadaku dan meratakan dengan kedua tangannya sambil meraba-raba tubuhku. Kini seluruh tubuhku berlumuran sperma seperti mandi sperma dari wajah hingga pantat dan pinggul.

Setelah merasa puas, adikku mengambil kamera digital dan memfotoku berkali-kali dengan posisi berbeda-beda dalam keadaan telanjang bulat, basah berlumuran sperma dan memasukkan ke komputer untuk dikirim ke internet dengan cara mendownload ke sebuah website. Dan mengancamku untuk tidak buka mulut kepada siapapun dan kalau bocor rahasia ini, akan disebar foto-foto bugilku ke kampusku termasuk pacarku melalui email teman-temanku baik cowok maupun cewek, ia mengetahui email teman-temanku karena sudah membaca-baca buku catatan harianku, akhirnya aku pilih diam saja.

Empat hari sesudah itu, adikku pulang bersama mereka lagi dan mengajak lima orang teman lain untuk memperkosaku lagi, rupanya mereka sudah mulai ketagihan dengan tubuhku ini, itu sudah pasti karena tubuhku ini “hanya” dijual murah oleh adikku, setiap orang membayar adikku Rp 50.000 untuk memperkosaku tanpa kondom sepuas-puasnya tapi jika memakai kondom hanya membayar Rp 35.000, aku hanya mendapat upah 10% dari bayaran tadi.

Totalnya delapan orang tanpa adikku, karena adikku cuma menerima uang dari teman-temannya dan menghitungnya. Mereka berdelapan memperkosaku secara bergantian dan kadang bersamaan dengan lebih menyakitkan karena mereka juga menyiksaku secara hardcore (terus terang aku mengetahui arti hardcore setelah tragedi ini), adikku tidak ikut memperkosaku karena setiap malam ia menyetubuhiku terus dengan berbagai macam gaya yang ia tonton di VCD pornonya.

Seminggu bisa empat sampai lima kali aku diperkosa teman-teman adikku, kadang sendirian kadang berkelompok, siang dan sore. Tetapi malam harinya oleh adikku sendiri.

Untuk itu kepada pacarku jika membaca ini, saya mohon maaf karena telah berbohong kalau aku masih perawan. Sekian terimakasih. Dan untuk pembaca wartahot.blogspot yang ingin “merasakan” aku silahkan hubungi emailku, karena aku sekarang juga melayani orang lain.
read more...

Ki Bejo

“Dewi, gua dengar, di daerah dusun luar kota ada orang pinter yang hebat loe, eloe coba aja ke sana, mungkin dia bisa bantu” begitu kata Cindy teman kantorku. Aku menatapnya dan berkata “sekarang udah zaman komputer, masa sih eloe nyuruh gua percaya, sama dukun?” kataKu dengan arogan.

“loh, apa salahnya di coba, apa loe mau sendiri terus, Ki Bejo itu dukun hebat, sudah banyak yang berhasil” kata Cindy lagi.

Aku diam, pikiranku menerawang jauh, memang aku tak penah mau jadi perwan tua, umurku sudah 30 tahun, tapi tak ada seorang cowokku yang tertarik padaKu. Padahal, aku tidak jelek. wajahku ayu, kulitku putih. Latar belakang pendidikanKu juga tidak jelek, dengan S1 ekonomi. Aku juga dari keluarga baik baik, dengan ekonomi cukup mapan.

“eh koq melamun sih” kata Cindy lagi. “ah engak koq, aku lagi mikirin, kerjaan, besok bos mau meeting” kataku asal jawab. “ah, eloe, kerjaan mulu, eloe mesti pikirin juga diri eleo dong, lihat gua, umur gua lebih mudah dari eleo, anak gua udah dua, kapan eloe mau punya anak, Dewi, Dewi…” kata Cindy yang terus nyerocos kaya senapan mesin.

Aku masih diam, mendengar nasehat teman baikku ini. “udah deh, eloe coba konsultasi ama Ki Bejo, nih alamatnya” kata Cindy lalu menyebutkan alamat Ki Bejo. Aku pura pura, acuh, tapi otakku mememori seluruh ucapannya.

“Dewi, kalau mau, gua akan temanin eloe pergi ke sana” kata Cindy lagi. “udah deh, Cindy, gua gak percaya ama gitu gituan” , kataKu. Cindy menghela nafas, “yah, sudah deh, tapi kalau eloe berubah pikiran eloe bilang aja yah.

Saat itu, lewat Anto, Teman kantorku juga, dia menjabat kepala mekanik. Dia seusia dengan ku, dia juga lajang dan wajahnya tampan. Aku sudah berkali kali menarik perhatiannya, tapi dia tampaknya acuh padaKu.

“Hai, Cindy, gimana kabarnya anak eleo” katanya menyapa Cindy. “he he baik baik, anak eloe gimana” kata Cindy. “ah eleo, lagi gua design “jawab Anto bercanda.

Anto berlalu, begitu saja di depanku, seakan akan aku tak ada di situ. Ada rasa kesal di hatiku. Memang benar kata Cindy, aku harus mencoba, kesaktian Ki Bejo, tapi aku terlalu gengsi untuk mengakuinya.

Hari jum’at, malamnya sepulang dari kantor aku melarikan mobilku, memasuki jalan tol dan melaju kencang. Sambil mendengarkan lagu lagu romantis, mobilku melaju cepat. Sampai bertemu pintu keluar, yand di sebutkan Cindy.

Mobilku terus berjalan, dan jalan di perkampungan itu agak rusak. Jalan tak beraspal, penuh debu, dan kerikil. Aku sampai tersesar, dan bertanya tanya orang. Sampai orang terakhir “pak, numpang tanya, rumah Ki Bejo di mana yah?”.

“oh, Ki Bejo dukun sakti itu yah” katanya. Aku mengangguk, wah mungkin Ki Bejo ini benar benar sakti pikirKu. “itu, ibu lurus saja, nanti lihat rumah catnya hijau putih, nah itu rumahnya” kata orang itu.

Setelah mengucapakan terima kasih mobilku terus melaju pelan, sampai bertemu rumah berciri sama dengan yang di ucapkan orang itu. Aku memarkirkan mobilKu. Memasuki terus rumah, itu dan mengetuk pintu.

“yah, ada apa bu” kata seorang lelaki muda,berumur tak lebih dari 17 tahun. “anu dik, Ki Bejo ada?” tanyaKu. “oh, ada tunggu yah, silakan duduk dulu, saya panggilkan bapak” kata anak muda itu, sambil mempersilakan saya duduk.

Mataku melihat sekeliling ruang tamu itu, rumah itu tergolong mewah untuk ukuran kampung. Tak lama munculah lelaki tua berumur sekitar 60 tahunan. Tubuhnya masih tampak kuat. Hanya rambutnya sebagian sudah memutih. Kulitnya hitam legam.

Wajah orang itu agak menyeramkan, lebih cocok menjadi preman di banding dukun. Jari jari yang besar, di penuhi cin-cin dengan batu berwarna warni.

“selamat malam, ada yang bisa saya bantu” katanya. Aku masih agak shock melihat penampilan dirinya. “eh, anu pak.. anu “katku terbata. Ki Bejo tersenyum.

Anak muda itu kembali keluar dengan membawa, segelas air “silakan bu” katanya. Aku melihat anak muda. “ini anak saya,” kata Ki Bejo. Anak itu segera masuk kembali. Aku melihat perbedaan yang nyata, anak itu ganteng, dan kulitnya putih, koq bapaknya seperti ini yah pikirKu.

Setelah berbasi basi, dan tampaknya Ki Bejo jauh lebih ramah, di banding penampilannya, Aku lalu mengutarakan maksud kedatanganKu. “oh, masalah itu, itu masalah muda, aya kita ke kamar praktekKu” kata Ki Bejo.

Aku mengikuti dia, masuk ke sebuah kamar, berukuran cukup luas. Ki Bejo duduk bersila di hapadannya ada meja, yang di atasnya terletak baskom berisi bunga bungaan. Ada anglo, dengan arang yang membara, Ada kasur, dengan alas putih di situ serta beberapa keris dan berbagai pernak pernik perdukunan, yang terlihat berbau mistik.

Tangan Ki Bejo mengambil menyan, segemgam menyan itu di taruh di atas arang yang membara, asap mengepul dengan bau menyegat, memenuhi ruang itu. Kepalaku tersa berkunang, kunang. Dan mulut Ki Bejo berkomat kamit.

“jodoh kamu ada, cuma tertutup, sinar aura kamu gelap” kata Ki Bejo. Aku hanya mengangguk. “Kalau kamu mau Aku bisa menolong kamu, dan aku jamin berhasil” kata Ki Bejo lagi. Aku tersenyum “saya mau Ki, tolong saya”.

“Baik, sekarang, lepaskan baju kamu” kata Ki Bejo. Aku kaget mendengar kata kata Ki Bejo. Naluriku langsung berkata tidak, tapi tanganku mulai mengangkat kaos T-shirtKu. Dan aku perlahan membuka celana jeanku. Kini aku berdiri dengan hanya memakai Bra dan celana dalam saja. Mata Ki Bejo menatap liar tubuhKu Dia menghapiriku. Mulutnya berkomat kamit, tangannya bergerak gerak, aneh sepeti menari di depanKu.

“coba, lepas BH kamu “perintah Ki Bejo. Saat itu tanganku segera melepas kait BH kream Ku tanpa berpikir. Mata Ki Bejo, seperti melahap buah dadaku yang mengantung terbuka. Tangannya segera meraba buah dadaKu. Mulutnya masih terus berkomat kamit, dengan bahasa yang sama sekali aku tak mengerti.

Yang saat ini Aku rasakan ada desakan kuat di rahimKu. Aku merasa vaginaKu mulai berreaksi, aku terangsang. Tangan tangan Ki Bejo terus meraba raba buah dadaKu. Dia meremas, dan memainkan putting susuku. Putting susuku pun menerima perlakuan ini dan agak menegang.

Dan tiba tiba, jarinya menekan selangkangan celana dalamKu. “aghhhh “jeritku. Aku semakin terhanyut, dalam birahi yang di berikan Ki Bejo.

Ki Bejo kemudian membaringkan ku di kasur, di ruang itu. Aku benar bena rke hilangan pikiran jernihku, Entah kenapa aku menurut saja. “sekarangkan, kamu bayangkan lelaki yang kau inginkan” kata Ki Bejo.

Setelah berbaring, Ki Bejo dengan nafsu sekali melumat bibirku. Dia menciumku dengan penuh nafsu. Lidahnya juga terus berusaha mesuk ke mulutku. Berputar di sana, menyentuh langit langit mulutKu. Mengelitik, dan memberiku rangsangan yang hebat.

Lidahnya juga menjilati leher, kuping dan pipiku. Ada rasa jijik, tapi Aku tak bisa menolak, Aku hanya memejamkan mata, membayangkan kalau Anto yang melakuan ini semua pada diriku.

Lidah lidah Ki Bejo terus turun hingga ke buah dadaKu. menjilati putting susuKu yang semakin mengeras, dan menyedotnya dengan lembut, membuat aku makin terlena. Vaginaku rasanya terus berdenyut, dan lend*r nafsuku mengalir deras membasahi celana dalam creamku.

Sambil terus menyusu, Ki Bejo juga memainkan selangkangan celana dalamKu. Aku menjadi begitu hot. “asss, ohh Ki, Ki Bejo, saya tak tahan Ki” kataKu.

Aku benar benar terangsang, seumur hidupku, aku baru kali ini merasakan, hal ini. Memang terkadang aku melakuan masturbasi, kalau birahiku meninggi, tapi rasanya tak seperti ini. Rasa nikmat ini benar benar membuatku gila.

Dan Ki Bejo terus saja, memainkan buah dadaKU, dan selangkangan celana dalamKu. Pemainannya ini terus membawaku ke puncak kenikmatanKu. Aku benar benar tak tahan lagi, Aku menjerit penuh kenikmatan, tubuhku bergetar hebat. “Ki Bejo, ahh saya tak tahan …”.

Ki Bejo diam sebentar, menatap tubuhku yang mengejet, menikmati orgasmeku. Kemudian, yang kulihat, Ki Bejo sudah berbugil ria. Tongkat saktinya bergatung bebas, membuatku bergidik. Penisnya besar, hitam. “ayo, buka mulut kamu” katanya sambil mendekatkan penisnya ke wajahKu.

Aku seperti di sirep, mulutku terbuka lebar, dan pen|s itu bermain di dalam mulutku. Ki Bejo, memegang kepalaKu, membelai rambutku yang hitam, dan sebahu, yang selalu aku rawat dengan baik.

Penisnya terus begerak dalam mulutku. Entah kenapa, aku sangat menikmatinya. Tanpa di suruh, aku melakukan gerak seperti di filem filem porno. Ki Bejo juga sangat menikmatinya. Dia mengeram, kenikmatan.

Penisnya terus bergerak maju dan mundur, Aku sediri, dengan nasfu menyedot nyedot kepala penisnya. “ohhh … “dan sperma Ki Bejo memenuhi mulutku. “cepat, telan p-e-j-u Ku, jangan di buang, itu obat” kata Ki Bejo.

Aku menelan spermanya, yang berbau anyir, dan membuatku ingin muntah.

Ki Bejo lalu dengan tenangnya melepas celana dalamku, melebarkan kakiKu, menatap liar pangkal pahaku. Bukit kemaluanku yang berbulu, itu jadi santapan matanya. Jarinya kemudian, bergerak memaikan klitorisku. Aku kembali mendesah. Rasa gatel dan nikmat, kembali menyerang klitorisKu.

Sementara itu dia juga memainkan batang penisnya yang sudah mulai membesar kembali

Dan pen|s itu mulai mendekat ke vaginaKu. Hatiku menjerit, menolak perlakuan itu. Tapi tubuhku bagai patung, diam saja, tak protes. Perlahan ujung penisnya mulai membuka liang vaginaku yang perawan itu.

lend*r lend*r nikmat yang membasahi liang vaginaku memudahkan usahanya. pen|s itu bergerak masuk, membuatKu merasa pedih. Dan terus mendesak masuk “sakit, sakit”. Jeritku pelan.

Tanpa peduli, Ki Bejo merobek selaput darahKu. Dia terus bergerak, maju dan mundur pen|s besarnya mengisi ruang ruang dalam liang sagamaKu. Rasa perih dan sakit mendera vaginaKu. Aku mengigit bibirku menahan sakit di vaginaKu.

Tanpa peduli ke adaanku yang mengerang kesakitan Ki Bejo terus mengoyang tubuhKu. Sebentar kemudian dia mencabut penisnya tubuhku di baliknya, pinggulku di angkatnya Dari belakang, pen|s itu memasuki tubuhKu. Dan Aku merakan sakit kembali mendera vaginaKu.

Dengan posisi ini aku merasakan pen|s Ki Bejo semakin besar. Melesak dalam liang vaginaku, bergerak keluar masuk dengan cepat.

Ki Bejo dengan penuh nafsu terus merodok vaginaKu. Dia mendengus seperti banteng yang siap menanduk mangsanya. Turus begerak, membuat tubuhku semakin mengerang

Hampir 15 menit kemudian, setelah peluh membasahi tubuhnya Ki Bejo mengerang. Aku merasakan cairan spermanya tumpah ruah dalam rahimku.

Aku tersungkur, terberaing tengkurap di kasur itu. Aku lemas sekali. Di sprei berwarna putih tampak jelas, noda merah, darah perawanku. Air mataku menitik, bathinku menganggis. Kesucianku yang ku jaga selama ini telah di renggut dukun cabul ini.

Ki Bejo berjalan ke mejanya. dia mengambil segelas air, dia berkomat kamit. “nih, minum air ini, habiskan” katanya. Aku meminum air itu, dan setelah itu, tenagaku seperti pulih kembali. Aku segera berpakaian kembali. Dan segera pergi dari tempat itu tanpa permisi.

Semakin mobilku menjauh dari rumah Ki Bejo, aku semakin sadar. Dan Aku kembali menangis di mobilku, Aku telah menjadi korban penipuan dukun cabul.

Setibanya di rumah, aku membuka seluruh pakaianku, dan di selangkangan celana dalamku terdapat noda darah, kembali air mataku menitik. Aku segera membasuh tubuh membersihkan dari kotoran Ki Bejo.

Malam itu aku tidur dengan mata sembab. Aku tertidur karena ke lelahan.

Di kantor esok harinya, aku seperti tak bergairah. Aku tak bisa bekerja dengan baik. “tok tok tok, pintu ruang kantor di ketuk seseorang. “yah, masuk aja “jawab Ku.

“maaf Dewi, eh bu Dewi, saya mau lihat laporan pembelian, spare pert mesin,yang bulan lalu?” kata Anto. Aku menatapnya, tak biasanya dia minta laporan pembelian. Karena memang bukan tugas dia. Tapi aku langsung mengangguk, dan mencari file pembelian.

“ini pak Anto” kataKu sambil mememberikan file itu padanya. Dia menatapku, aku merasakan kehangatan dari bola matanya. “terima kasih Bu Dewi.” dia menerima file itu, lalu berjalan ke pintu. Dia berhenti sebentar, membalikan badannya lagi “eh maaf Bu Dewi, apa eh.. maksud saya” katanya agak gugup.

“ada apa pak Anto, koq kayak bingung” kataku. “eh, anu, saya ada undangan pesta pernikahan teman saya, maksud saya, apa Bu Dewi ada acara entar malam, apa boleh saya ajak Bu Dewi ke pesta teman saya itu” katanya.

Jantung saya berdebar, kata katanya seperti lamaran buat saya, saya tersenyum, “ah Pak Anto, saya entar malam gak ada acara” kataKu dengan perasaan berbunga bunga.

“jadi, Bu Dewi, bersedia menemani saya ke pesta itu?” tanya Anto lagi. Aku menganggukan kepala. “terima kasih Bu Dewi, nanti malam saya jemput yah” katanya yang tampaknya juga gembira sekali.

Saat itu aku termenung, apa semua ini, dari Ki Bejo. Apa dia benar benar begitu sakti.

Jam 5.00 sore aku sudah tiba di rumah. Begitu di kamar, aku melepas seluruh pakaianku, bercermin menatap bayang bayang tubuhku di cermin. Aku mengagumi sendiri bentuk indah tubuhKu.

Hpku berbunyi tepat pukul 5.30. Aku menerima Hp itu, dari Anto. “Bu Dewi, apa sudah siap, saya sedang menuju ke sana”. “oh sudah sudah siap “jawabku, dan segera masuk ke kamar mandi, begitu pembicaraan selesai.

Tepat jam 7.00 mobil BMW Anto telah ada di depan rumahKu, aku masuk ke dalam mobilnya. Aku tersenyum dan dia juga tersenyum. Mobilnya pun berjalan pelan. Dia banyak berbicara padaKu. “Dewi, apa kamu sudah punya pacar ? “tanya Anto tiba tiba

Aku mengeleng “belum, saya belum punya pacar” kataKu. Anto tersenyum, lalu berkata “Dewi, kita sama sama telah berumur, kalau kamu tidak keberatan, bagaimana kalau kita berpacaran saja” kata Anto.

Hatiku dag dig dug, rasa senang, melanda diriku, saat itu juga aku resmi menjadi pacarAnto. Rupa undangan pernikahan itu cuma pura pura, Anto memang ingin mengajakku keluar, untuk menyatakan cintanya.

Kini di kantor hari hariku lebih ceria. Tiga bulan sudah kita melewati masa pacaran yang penuh kebahagian. Saat malam minggu Anto mengajakku menginap di Villanya di puncak. Aku tak keberatan, toh Anto sudah meminangku, dan orang tuaku setuju sekali. Kita tinggal menunggu hari untuk melangsungkan pesta pernikanan kita.

Di Villa itu, rasa dingin menyelimuti ku. Anto memelukku erat, memberiku rasa hangat. Bibir kami menempel erat, seakan tak bisa lepas. Tangan Anto pun mulai menjamah buah dadaKu. Aku mulai merasakan kenikmatan dari calon suamiku.

Tangan Anto terus menyusup di balik bujuku, dan memainkan putting susuKu. Saat itu kepalaku rasanya pusing, dan tiba tiba terbayang Ki Bejo. Saat itu diriku menjadi tak enak. Birahi agak menurun. Aku tak suci lagi, bagaimana jika Anto tak bisa menerima diriku.

Anto terus saja menstimulasi tubuhKu. Bajuku dilepasnya, dan kini aku sudah hampir bugil total. Anto terus menjilati buah dadaKu. Rasa birahi perlahan bangkit kembali Anto pun mulai membuka celana dalamku.

Dia sendiri membuka celananya. Aku menatap penisnya yang jauh lebih kecil dari milik Ki Bejo. Dia mendekat, dan membuka lebar kakiKu. Dia mau melakukan penetrasi. “Anto, apa tidak kita tunggu sampai menikah nanti” kataKu. Sambil mencium keningku Anto berkata “sayang, sejak aku menyatakan cintaku, aku sudah menganggap kamu istri saya sayang”.

Tiba tiba pen|s itu telah masuk, aku pura pura menjerit “aduh, sakit sekali Anto”. Padahal Aku tidak merasakan apa apa, aku merasa hambar. Anto terus bergoyang, dengan nafsu, penisnya bergerak dengan cepat keluar masuk.

Aku pun terus mendesah, walaupun tak merasakan apa apa. Anto terus mengoyang tubuhku. Udara dingin pegunungan itu, tak mampu membendung peluh yang membasahi tubuhnya. Anto mengeram, dan dia melepas spermanya.

“Oh, sayang aku sangat menikmatinya” katanya sambil menciumi bibirku dengan mesra. Setelah itu Anto terbaring kelelahan, tak lama dia tertidur.

Aku termenung di toilet, aku heran aku tak merasakan apa apa, ada nafsu, vaginaku berlendir, tapi aku tak bisa merasakan pen|s Anto. vag|na seperti mati rasa. Apa yang terjadi dengan diriku. Saat itu bayang bayang Ki Bejo membayangi diriku lagi.

Aku hanya berharap, aku terlalu tegang karena sudah tak suci lagi.

Esoknya pagi pagi Anto telah bangun. Dia mencium keningku,” selamat pagi Dewi sayang”. Aku pun tersenyum. Dan Anto sama sekali tak menanyakan soal keperawanan ku. Ini membuatku menjadi tenang.

Setelah itu, Anto kembali mencumbuKu. Kini dengan tanpa beban, Aku bisa terangsang dan menikmati setiap sentuhannya. Tapi tetap saja aku tak bisa merasakan pen|s Anto. Sama sekali mati rasa, seakan akan, pen|s Anto tak ada. Dan bayang bayang Ki Bejo selalu menghapiriku. Ini membuatku sangat menderita. Anto membuat birahi yang memuncak, tapi tak terselesaikan.

Aku tak bisa membicarakan hal ini dengan Anto. Aku hanya bisa berpura pura menikmati permainannya.

Hari itu, aku sudah berencana, ingin menanyakan masalah ini pada Ki Bejo. Sepulang dari kantor kembali aku memacu mobilku ke tempat Ki Bejo. Menyusuri jalan jalan berdebu, sampai tiba di rumah Ki Bejo.

“ada masalah apalagi, neng, apa ilmuKu tak berhasil ? “tanya Ki Bejo. Aku mengutarakan kondisiku. Ki Bejo mengajak Aku ke kamarnya lagi.

Kembali kepala pening karena asap menyan yang mengepul. “sini, biar saya periksa” kata Ki Bejo. Sambil membuka bajuku juga bra Ku. Dia melihat buah dadaKu “hmm, kilihatannya normal aja”. Kemudian dia juga membuka celanaKu berikut celana dalamnya.

Sambil duduk, tangan Ki Bejo, membuka belahan vaginaKu. “Hmm, normal aja” katanya berguman. Lalu lidahnya menjulur, dan klitorisku menjadi sasarannya. nafsuku tiba tiba menjadi tinggi. “oahhh Ki, ada apa dengan kemaluan saya “desahKu.

Lidah Ki Bejo terus merangsang syaraf syaraf sensitif di vaginaKu. lend*r kenikmatanku mengalir deras. “oh Ki, enak sekali, terus Ki, enak sekali “desahku. Aku benar benar merasa gatel di klitorisku. Setelah bermain tak terpuaskan dengan Anto, sekarang aku benra benar merasakan nikmat.

Lidah Ki Bejo aktif sekali, dan tubuhku bergetar, menerima rangsangannya. Rangsangan yang tidak ku dapati dari Anto. Sebentar saja, tubuhku bergetar hebat. Aku kejang kejang, Aku tenggelam dalam kenikmatan Ki Bejo.

Setelah membiarkan aku sebentar, kembali tangan Ki Bejo meraba raba bagian dadaKu. Putting susuku juga tak luput menerima sensasi nikmat Ki Bejo. Birahi perlahan naik lagi. Dan tanganku juga meraba raba selangkannya. “Ki, saya mau ini” kataKu.

Ki Bejo mengeluarkan senjatanya, dan membiarkan Aku memainkannya. Tanganku seperti gemas sekali, mengocok ngocok pen|s besar Ki Bejo. Sampai Aku merasakan gatel di Klitorisku, dan Aku memintanya “Ki, ayo masukin aja, aku udah gak tahan “pintaku.

Dan Ki Bejo membalikan tubuhKu. Aku tahu dia ingin memasukannya dari belakang aku langsung menungging. Aku mendesah, ketika ujung penisnya menyentuh klitoriKu Ki Bejo dengan lembut mengesek ujung penisnya di Klitorisku. Aku mendesah “ohh Ki, udah gak tahan, masukin aja..” pintaku merengek.

Pelahan Ki Bejo mendorong masuk penisnya. Aku merasakannya, tiap tiap centi, daging itu menerobos masuk ke kemaluanku. Aku mengerang nikmat, begitu juga Ki Bejo, merasakan jepitan erat vaginaku. Tubuhnya bergerak, seiring penisnya keluar masuk vaginaku.

Aku benar benar merasakan nikmat bersetubuh, dengan seorang pria. Sebentar saja tubuhku kembali bergetar hebat. Aku menerima puncak kenikmat itu dari Ki Bejo.

Tahu, aku tengah menikmati orgasmeKu, Ki Bejo diam sesaat, lalu mulai bergerak dengan lembut. perlahan menaikan kembali birahi. dan turus mengocok dengan cepat.

Membawaku ke puncak nikmatku lagi.

Tiga kali aku di buatnya orgasme, sampai dia pun mengerang, menikmati orgasmenya di vaginaKu. Tubuhku pun menjadi lemas.

Setelah, aku berpakaian, dan merapikan pakaiaanKu. Aku kembali menanyakan masalahKu. Ki Bejo membelai rambutku, “Sudahlah, saya akan coba, membantu kamu”.

Dalam perjalan pulang, mobilku berjalan lambat. Aku berpikir, kenapa aku begitu suka permainan sex Ki Bejo. Aku sepertinya ke tagihan oleh permainannya.

Aku seperti ingin membatalkan pernikahanKu dengan Anto. Dari pada menikah, tapi bathinku tersiksa, lebih baik aku sendiri pikirKu.

Hari pernikahanku akhirnya tiba juga. Dimana Aku dan Anto menjadi raja dan ratu sehari. Anto pun telah menyediakan tempat bernaung untuk ku. Sebuah rumah yang cantik di perumah yang cukup ternama.

Pesta perkawinanku juga tergolong mewah, dengan di hadir lebih dari seribu orang, kerabat ku dan Anto, serta orang tua kami.

Malam harinya, Aku bercinta dengan Anto secara resmi. Sama seperti sebelumnya, vaginaKu mati rasa. Aku terangsang, menikmati cumbuan suamiku, tapi ketika nafsuku sudah tinggi, sewaktu Anto melakukan penetrasi, aku tak merasakan apa apa.

Tidak ada rasa sakit dan tidak ada rasa nikmat. Sangat berbeda dengan Ki Bejo.

Setelah Anto ejakulasi, dan Aku belum apa apa, Aku berbaring saja. Hatiku gembira menerima sosok Anto sebagai suamiKu. Anto suami yang baik. Tapi Badanku menolak Anto. Badanku seperti milik Ki Bejo.

Di saat ini, sepertinya Aku ingin melarikan mobilku dengan kencang menuju rumah Ki Bejo, dan melampiaskan birahiku padanya.

Malam pengantin ini membuat hatiku bahagia, tapi badanku menangis kecewa

Entah apa yang akan terjadi besok.

Setelah melewati malam pengantin dengan kekecewaan, Aku semakin merasa jemu dengan suamiku Anto. Di lain pihak aku juga merasa kasih sayang dia. Sebagai pengantin baru, Anto sangat memeperhatikan Aku.

Anto bahkan tidak mengizinkan Aku untuk berkantor lagi. “Mami, sekarang mami, di rumah saja, ngapain cape cape kerja,biar papi yang cari duit, mami mau berapa “begitu katanya. Teman teman ku mengatakan aku sangat beruntung bisa bersuamikan Anto.

Aku tak tahu, perasaanku dengan Anto, hambar. Hampir tiap malam aku bercinta dengan Anto. Tiap malam pula aku kecewa. Lebih baik jika Anto tidak mengajakku bercinta. Lebih baik kita tidur saja, itu pikirku dalam hati.

Tapi tidak, Anto mencumbuku, membuatku terangsang. Aku tak bisa menolak suamiku sendiri. Anto membuatku sangat terangsang dengan cumbuan cumbuan mesranya, tapi aku tak bisa terpuaskan, aku tak bisa orgasme.

Berapa lama pun Anto mengoyang vaginaku dengan penisnya, tetap Aku tak merasakan apa apa. Seperti ada sesuatu yang menjaga vaginaku, menahan orgasmeku.

Ini membuat Aku kesal dengan Anto. Apa lagi setelah itu dia biasanya terlelap membawa kenikmatannya sendiri. Sedang Aku hanya bisa, termenung. Di saat seperti ini yang ada di bayangan sosok Ki Bejo, dengan penisnya.

Aku segera menghindar, Aku melakuan sesuatu, menonton televisi, atau apa saja. Aku tak mau memikirkan Ki Bejo, Aku milik suamiku, aku harus setia, itu yang selalu aku tanamkan dalam diriku.

Pagi itu, setelah sarapan suami siap aiap berangkat ke kantor. Dia mencium keningku, lalu dia meremas pantatku, sambil berbisik “mami, semalam goyangan papi hebat gak?”. Aku tersenyum “hebat pi, hebat “jawabku. “entar malam papi goyang lagi yah” katanya. Aku hanya mengangguk, dalam hatiku lebih baik tidak usah bercinta.

Apa aku harus hidup dalam kepura puraan. Kenapa vaginaku tak bisa menerima penisnya. Kenapa mati rasa, kenapa. Ki Bejo, apa yang kau lakukan terhadap diriku ?

Setelah Aku mandi, Aku berencana akan ke Dr Genekolog (ahli kebindanan ). Aku tak mau lagi ke Ki Bejo. Aku mau yang logic pikirku.

“yah selamat siang, ada masalah apa “tanya Dokter itu. “begini dok, saya tak bisa merasakan pen|s suami saya” kata saya. Dokter itu tersenyum “maksud ibu, tak bisa terangsang ? “tanya Dokter itu lagi.

“bukan, saya terangsang, bahkan sangat terangsang, tapi waktu suami saya mulai, vag|na saya mati rasa, tak merasakan pen|s suami saya..” kata saya. “tak merasakan pen|s.. hmmm hmm “Dokter itu berguman sendiri.

“kalau ibu menyentuh vag|na ibu, apa ibu merasakannya ? “tanya Dokter itu lagi. Aku menatap Dokter itu, sepertinya dia tak percaya pada cerita saya, sepertinya saya mengada ada. “tentu saja, saya bisa merasakan jari saya Dokter” kata saya.

Dokter itu mangut mangut “jadi ibu bisa merasakan jari ibu di vag|na ibu, tapi tak bisa merasakan pen|s suami ibu di vag|na ibu”. Intonasi nya seperti mengejek. Aku menatap Dokter itu lagi, “saya sungguh sungguh Dokter, saya tidak bercanda”.

“oh, maaf bukan begitu maksud saya, saya baru kali ini mendapat kasus seperti ini” kata Dokter itu. Aku diam. “Ok, begini, ibu silakan berbaring, saya coba periksa” kata Dokter itu kemudian.

Aku menurutinya, aku berbaring. “maaf Bu, saya harus memeriksa vag|na Ibu” kata Dokter itu. Aku mengerti, aku melepas celana dalam ku. Dokter itu mulai memakai sarung tangan karetnya. Dia mulai memeriksa vaginaku.

Dia membuka bibir vaginaku, lalu jarinya di masukan ke vaginaku. Sebentar kemudian dia mencabut jarinya. “Ibu, bisa merasakan jari saya “tanya Dokter itu. “ya, bisa Dok” kataKu. “saya, rasa vag|na ibu normal normal saja, mungkin ini hanya pskikologis saja, karena ibu kan pengantin baru” kata Dokter itu.

“maksud Dokter saya steress” kata saya. “yah mungkin” kata Dokter itu. Aku benar benar tak puas atas jawaban Dokter ini.

Tiba tiba, aku melihat tubuh Dokter itu mengejang. Kemudian dia bengong sebentar. “Dok, kenapa ?’ tanya saya keheranan melihat tingkahnya. “oh tidak apa apa” katanya.

“Coba saya periksa sekali lagi, untuk lebih jelasnya” kata Dokter itu. Dia melepas sarung tangan karetnya. Lalu jarinya membuka bibir kemaluan saya. Jarinya memainkan klitoris saya. Sekarang saya merasakan sesuatu yang lain.

Jari jarinya terus memainkan klitoris saya, saya mengigit bibir saya, lend*r saya mulai merembes keluar liang vag|na saya. Dengan adanya lend*r saya, jari jari itu lebih terasa, di klitorisku yang makin membesar. Bibir vaginaku juga terasa menebal akibat rangsangan nikmat yang di beri Dokter itu. Sensasi ini, seperti yang di berikan Ki Bejo.

Semakin lama diriku makin terhanyut, mataku terpejam, tanganku mencengkram pingir ranjang praktek dokter itu. “bagaimana, bu apa ibu, bisa merasakan nikmatnya” kata Dokter itu. “hmm, haa, hmm “hanya itu suara yang keluar dari mulutku.

Lidah Dokter itu juga menjilati vaginaku. Tubuhku mengeliat, kenikmatan, lend*r yang keluar liang vaginaku semakin menjadi. Tubuhku terus gemetar “ohh, Dokter saya merasakan, ahh, ahhh, nikmat.. saya tak tahan, ahhh”. Lidah Dokter itu terus mengaduk aduk vaginaku.

Tubuhku mengeliat, dan akhirnya menegang kejang, Aku menerima orgasme yang aku rindukan selama ini. “Lihat, vag|na anda normal saja kan” kata Dokter itu.

“Sekarang saya akan periksa t-e-t-e ibu yah” kata Dokter itu yang tanpa permisi membuka bajuku. Buah dadaku di remas remas, dan putting susuku di mainkan sesuka dia. Tubuhku mengelinjing, kenikmatan. Lidahnya juga menjilati putting susuku.

“ahh, Dokter, saya nafsu sekali, isep pentil saya dong..” pintaku dengan tak malu malu. Dokter itu juga sangat bernafsu dengan tubuhku. Dia menyedot putting susuku, dengan nafsu. Aku benar benar nikmat, dan mulutku terus mengerang ngerang, kenikmatan.

Puas bermain dengan buah dadaku, Dokter itu menyodorkan penisnya ke mulutku. pen|s yang sebesar pen|s suamiku itu aku kulum dengan nafsu. Aku menyedot nyedot, mengocok, dan terus membuat Dokter itu mengerang kenikmatan.

Doket itu terus mengocok penisnya di mulutku, maju mundur dengan cepat, sampai aku merasakan pen|s itu diam, dan mulutku penuh dengan spemarnya. Dia mencabut penisnya yang telah layu itu keluar dari mulutku.

Dia berjalan, dan memegang kakiku, lalu membuka kakiku selebar mungkin. Wajahnya sepertinya berubah, Dokter itu menjadi sangar. Penisnya dengan begitu cepat telah menegang kembali.

Dan dia mulai melesakkan penisnya masuk ke vaginaku. Aku merasakan penisnya memenuhi relung relung di dalam vaginaku. Aku merasakan penisnya besar sekali. Padahal tadi jelas jelas, aku melihat penisnya hanya sebesar pen|s suamiku.

Aku merasa nikmat yang luar biasa, aku mengerang. Aku mendesah, tubuhku terus mengeliat, pinggulku bergoyang, seirama desakkan pen|s Dokter itu. Aku terus mendesah. Tak lama tubuhku, menegang “ohhh gatel, aku keluarrr”.

Tanpa memberiku waktu, untuk menikmati orgasme, Dokter itu terus mengoyang tubuhku. Aku mengelijing, ngilu. Sebentar kemudian, dengan aktifnya pen|s Dokter itu yang terus mengesek dinding vaginaku, nafsu ku bangkit lagi.

Lima menit berikutnya aku mencapai puncak kenikmatan kembali. Hampir tiap lima menit rasanya tubuhku mengejang, merasakan puncak nikmatku. Entah berapa kali, aku berorgasme, sampai Dokter itu melepas spermanya di dalam liang vaginaku.

Setelah Dokter itu melepas, batang penisnya dari liang vaginaku. Aku kembali mengenakan pakaianku. “nah, bagaimana, berasakan, berarti anda memang suka sama pen|s orang lain” kata Dokter itu. “ha, apa maksudnya Dokter?” tanyaku.

“yah, kamu memang tipe istri yang suka selingkuh, kamu doyan n-g-e-n-t-o-t sama orang lain ha.. ha.. ha.. “ejekan Dokter itu membuat panas hatiku. Aku segera keluar dari ruang praktik Dokter itu, dan langsung berlari pulang.

Di rumah, aku menangis, hatiku pedih, baru kali ini aku di rendahkan orang seperti itu. Tapi aku juga merasakan nikmat yang luar biasa, yang di berikan Dokter itu. Aku memenuhi bathtub ku dengan air hangat, lalu aku berendam. Aku memejamkan mata, aku lebih merasa bersalah terhadap suamiku sekarang. Apa kata kata dokter itu benar.

Sensor hindungku seperti menangkap bau menyan. Aku membuka mataku, tak ada apa, hanya imajinasiku saja pikirku. Kembali aku menenangkan diri, air hangat ini membuat otot otot ku menjadi rilex.

Tida tiba, aku merasa seperti ada yang mengelitik vaginaku. Aku langsung berdiri, memegang vaginaku, aku tak menemukan sesuatu, bulu kudukku sontak berdiri. Apa apa ini. Tida tiba tubuhku kaku, aku tak bisa mengerakan anggota tubuhku, bibirku terkunci, aku seperti patung.

Dalam keadaan tegang itu, aku merasa jelas sekali seperti ada sosok yang tak nampak mata sedang merabai vaginaku. Benda seperti jari jari tangan itu menyelinap masuk ke tubuhku, bermain di dalam liangku. Anehnya, aku merasakan sensasi nikmat yang luar biasa. Dalam keadaan tubuh yang kaku, lend*r kenikmatan ku keluar begitu saja.

Semua organ sex ku, menjadi sangat terangsang. Aku benar benar nikmat, samapi tak bisa menahan kenikmatan itu, tiba tiba tubuhku terbebas dari ke-kaku-annya, tubuhku bergetar hebat, “ohhhh ahhhhh”.

Tubuhku terjatuh dalam bathtub, terpeleset, rebah. Kini tubuh kembali merasakan air hangat di bathtubku. Mataku terasa berat sekali, rasa ngantuk menyerangku, aku seperti melayang, dalam setengah sadar aku mendenga suara yang ku kenal, sayup sayup Ki Bejo berkata “bagai mana Dewi, apa kau merasa nikmat dengan permainanan ku tadi, kau memang istri yang suka selingkuh ha.. ha..ha.. “

“mami, mami..”. Aku merasa tubuhku di goyang, di bangunkan, aku membuka mataku, aku melihat suami dengan wajahnya yang kawatir. “mami, kamu kenapa sayang, ayo bangun,” kata suamiku menarik tanganku.

Tapi tubuh seakan lemas tak bertulang, “papi.. mami sakit, pusing…” suaraku lemah. Suamiku langsung mengendongku, membawaku ke kamar, dan memaringkan tubuhku di ranjang.. Tubuh tak bisa bergerak, suaraku sesak, tapi kesadaranku tetap tinggi. Bola mataku bisa melihat jelas, wajah kawatir suamiku.

Tangannya sibuk menekan tombol Hp nya. Dia menelpon Dokter Benny, dokter keluarganya. Selagi menunggu ke datangan Dokter Benny suami saya dengan penuh kasih sayang, membelai rambutku, dia mencium keningku.

Hatiku menjerit, Anto maafkan diriku. Setelah Dokter Benny tiba, tubuh langsung di periksa. “bagaiman dok, apa istri saya kena stroke ? “tanya suamiku dengan cemas.

“tekanan darah normal, detak jantung juga normal, tak ada tanda tanda stroke” kata Dokter Benny.

“lalu apa, penyakitnya Dok ? “tanya suamiku. Dokter Benny tampak bingung juga, dia berkata “Untuk sememtara, saya menguda istri anda ke lelahan”. Suami tampak tak puas dengan jawaban Dokter Benny. “begini saja, saya akan memberi resep, kita lihat besok, jika tidak ada perubahan, bawa istri kamu ke rumah sakit” kata Dokter Benny.

Besoknya Aku di bawa suamiku ke rumah sakit, Tubuhku masih lemas, tapi aku sudah bisa mengerakkan anggota tubuhku. Dari hasil pemeriksaan USG, dan hasil tes Lab, tubuhku normal saja. Ini yang membuat suamiku bingung.

Aku tahu penyakitku, aku tahu penyebabnya Ki Bejo, dia menginginkan kehangatan tubuhku, dia tak mau melepaskan tubuhku. Dalam keadaan setengah sadar di bathtub beberapa hari yang lalu, aku seperti berbicara dengan Ki Bejo.

Ada semacam telepati, Ki Bejo menginginkan tubuhku, dan Dialah yang membuat tubuhku suka dengannya. Walaupun jiwaku, hatiku tidak sudi.. Tapi tubuh menginginkan Ki Bejo. Dia tak akan melepaskan tubuhku.

“Mami, tadi Cindy menyarankan membawa kamu ke orang pintar, dia ada kenal namanya Ki Bejo” kata suamiku. Kepalaku seperti di pukul palu besar. “papi, masa sih, papi percaya sama, dukun” kataku. “kalau memang bisa menyembuhkan mami, apa salahnya dukun” kata suamiku lagi. “tidak mau” kataku.

Selagi suami saya mandi, saya menelpon Cindy. “Cindy eleo gila yah, kenapa kasih tau Anto masalah Ki Bejo?”. “tenang Dewi, gua ngak bilang eloe dapet jodoh dari Ki Bejo koq ““eleo engak tahu yah, gua di..” aku menghentikan kata kataku.

Aku tak pernah menceritakan tentang hubungan ku dengan Ki Bejo. Kalau aku bicara takutnya akan menjadi bumerang unutuk ku. Dewi pun bertanya “tahu apa ?, kamu kan dapet Anto dari dia, kenapa tak minta tolong sama dia?”. Aku menarik nafas “yah sudah deh” kataku langsung memutus hubungan telepon itu.

Keesokan harinya, tanpa ku ketahui suamiku, pulang dengan membawa Ki Bejo.

“mami, itu aku bawa Ki Bejo, dia akan mencoba mengobati kamu” kata suamiku. “ha, Ki Bejo, aku gak mau, aku gak percaya dukun” kataku protes. “sudalah mi, di cobakan ngak ada salahnya” kata suami merayuku. Benar benar Ki Bejoo tak mau melepaskan diriku.

Aku mengalah, dan suamiku membawa Ki Bejo masuk ke kamarku. Ki Bejo tersenyum melihatku, aku memandang rendah dirinya. “saya akan periksa istri bapak” kata Ki Bejo kepada suamiku. “silakan pak” kata suamiku.

Ki Bejo memegang tanganku. sambil mulutnya berkomat kamit. “wah, istri anda di ikuti barang halus” kata Ki Bejo. “wah, bisa di tolong Ki?” tanya suamiku. “oh ini hal mudah..” kata Ki Bejo.

“saya minta berdua dengan istri anda, selama pengobatan tidak boleh ada yang ganggu jika konsentrasi saya terganggu jiwa istri anda akan terancam, mengerti” kata Ki Bejo.

“saya mengerti Ki” kata suami saya tanpa curiga.

“mami, saya tinggal dulu yah, biar lah kita kasih sesempatan sama ki Bejo” kata suamiku. Aku diam saja, mau bilang tidak rasanya tidak mungkin.

Setelah suami meninggalkan kama, Ki Bejo langgsung mengunci pintu kamarku. Aku benar benar tak bisa apa apa, kini aku harus ditiduri Ki Bejo di ranjang ku dan suamiku sendiri.

Ki Bejo mendekat, Aku melotot “jangan macam macam, aku akan teriak “ancamku.

“kau lupa yah, dari siapa kau mendapat suamimu” kata Ki Bejo sambil membuka celananya. Penisnya yang besar mengacung tepat di wajahku. Setelah melihat penisnya tubuh seketika mendapat tenaga extra. Aku seperti tak bisa mengatur tubuhku.

Aku meraih batang penisnya tegak itu, memainkan dengan nafsu. Lalu aku membuka mulutku lebar lebar, dan aku mengulum penisnya. pen|s itu aku sedoot sedot, sepreti anak kecil yang mengharapkan susu dari ibunya..

Ki Bejo memegang kepalaku, dan terus mengocok batang penisnya di mulutku. Kira kira lima belas menit, Ki Bejo memuntahkan spermanya dalam mulutku. Bagai orang ke hausan air maninya aku telan. Rasanya kerongkongan ku dingin dan suara serak ku hilang.

Ki Bejo pun tanpa segan memreteli pakaianku satu persatu. kini dengan senyum penuh nafsu Ki Bejo menatap tubuhku, yang hanya memakai celana dalam pink. Lidahnya terus membangkitkan nafsu birahiku di seputar buah dadaku. Aku tak bisa apa apa, aku seperti wanita haus belaian sex, dari Ki Bejo.

Klitorisku rasanya mulai gatel, lend*r pun mulai membasahi selangkangan celana dalamku. Sambil terus menjilati buah dadaku dengan nafsu jarinyapun bermain di selangkangan celana dalamku. Tanpa sadar, aku melebarkan kakiku sendir, sehingga jari Ki Bejo leluasa memainkan selangkangan celana dalamku.

Sentuhan jari Ki Bejo sangat terasa menembus celana dalamku. lend*r terus membasahi celana dalamku. Klitorisku makin terasa gatel. Aku mulai tak tahan, aku mendesah pelan “shhh, Ki aku gak tahan..”. Ki Bejo terus memainkan tubuhku “yah, Dewi, akuilah kamu membutuhkan diriku, kamu membutuhkan kepuasan dariku “

Aku mengerang erang kenikmatan “yah Ki, aku butuh, aku mau Ki.. aku mau..”. Jari Ki Bejo makin cepat, bergetar di selangkangan celana dalamku, yang kian basah. Tubuhku melengkung, aku mencapai puncak birahi.

Tanpa melepas celana dalamku, Ki Bejo memasukan penisnya dengan menyingkap celana dalamku ke samping. “ahhh.. Ki…”. “kamu suka Dewi..” kata ki Bejo setelah seluruh batang pen|s besarnya menancap di liang sagamaKu. “oh Ki, saya suka. ayo goyang Ki “pintaku.

Ki Bejo pun bergerak, maju dan mundur, penisnya yang besar itu merodok liang vaginaku dengan nafu yang tinggi. Aku mendesah desah, nikmatnya tak bisa kubayangkan. Gesekkan pen|s besarnya, membuat klitorisku menjadi membengkak. karena nikmat.

Ki Bejo terus mengoyang liang vaginaku, aku benar benar di buatnya melayang, tak lama tubuhku mengejang, mencapai puncak birahiku. Beberapa kali aku mencapai puncakku, sampai Ki Bejo juga menyumburkan spermanya di liangku.

Setelah batang penisnya tercabut, Ki Bejo merapikan celana dalamku, dan dia membiarkan spermanya di dalam liang vaginaku. Aku sama sekali tak keberatan. Anehnya aku malah merasakan vaginaku menjadi sensitif.

Tubuhku kembali normal seperti sediakala. Malah terasa lebih sehat. Ki Bejo menyuruhku berpakaian kembali lalu dia memanggil suamiku.

“Lihat istri anda telah sembuh” kata Ki Bejo. Suamiku menghampiri diriku “wah, bagaimana Mi, apa sudah mendingan”. “yah, aku jauh lebih baik “jawabku.

Suamiku pun mengucapkan terima kasih pada Ki Bejo.

“Begini, sekarang istri anda telah sembuh, tapi mahluk halus yang berhasil saya keluarkan dari tubuh istri anda, bisa balik lagi” kata Ki Bejo. “wah jadi bagaimana Ki ? “tanya suami saya. “yah, saya harus menjaganya untuk beberapa waktu, di sini” kata Ki Bejo.

“oh terima kasih Ki, KI Bejo bisa tinggal di kama atas, kusus buat tamu kata suamiku.“kata suamiku. “baiklah” kata Ki Bejo.

Kemudian mereka ke luar dari kamar ku, dan suamiku membawa Ki Bejo ke kamar atas.

Tanganku menyelinap ke balik celana dalamku, meraba vaginaku yang basah oleh sperma Ki Bejo, meraba klitorisku sendiri, dan merasa nikmat.

Melihat kondisi tubuhku yang sudah pulih kembali, suamiku tampak gembira sekali.

Malam itu dia mencumbuku, sudah seminggu ini aku tak bisa melayaninya. Malan ini suamiku menagih. Aku bercumbu hingga terangsang tinggi.

Tapi tetap saja, setelah pen|s itu dalam vaginaku aku tak merasakannya. Suamiku mendasah kenikmat, memuji muji betapa nikmat liang vaginaku, sedang aku sendiri tak pernah merasakan nikmatnya pen|s suamiku.

Akhirnya suamiku mencapai puncak kenimatannya. dangan menyiram banyak sperma di rahimku.Aku hanya tersenyum. Tak lama suami yang ke lelahan itu telah terlelap.

Kakiku langsung melangkah kecil, perlahan gagang pintukamarku aku buka, aku berjalan mengendap endap ke kamar atas.

Ki Bejo, seperti sudah tahu, dia sudah bersiap siap. Aku melepas gaun tidurku.” katakan apa yang ada di hatimu” kata Ki Bejo. “Ki, puaskan diriku, aku ingin Ki “pintaku.

Ki Bejo merangkul diriku, menyuruh aku menunging, penisnya yang telah siap itu, di masukan dari belakang. “heemm” kata dengan desah yang ku tahan. “Dewi, menjeritlah, betapa keras jeritan mu suamimu tak akan bangun ha ha ha” kata Ki Bejo

pen|s itu terus mengesek dinding vaginaku, aku menjerit, mengerang nikmat. Samapi aku benar benar merasa puas.

Setelah nafsuku terpuaskan, aku segera mengenakan pakai-an ku kembali. “Ki Bejo, apa Ki Bejo bisa mengemudikan mobil?” tanyaku. Ki Bejo tersenyum, sambil dia mengelus elus punggungku.

Aku berjalan menurunin tangga rumahku, dan kembali ke kamar tidurku. Kali ini aku tertidur dengan membawa kenikmatanku.

Esok pagi tubuhku terasa segar sekali.wajahku juga berseri seri. “mami, wah mami benar benar sudah sehat sekarang” kata suamiku. Aku memeluknya, dan mencium suamiku.

“pi, bagaimana kalau Ki Bejo, kita jadikan sopir pribadi, Ki Bejo sudah setuju tuh” kataKu. “Oh, kalau dia mau tentu saja boleh” kata suamiku.

Aku mencium pipi suami ku.
read more...
Home - About - Order - Testimonial
Copyright © 2010 cerita dewasa remaja All Rights Reserved.